SketsaNusantara.id - Sunan Kalijaga merupakan seorang wali yang menyebarkan agama Islam di tanah Nusantara terkhususnya di Jawa.
Sunan Kalijaga diketahui begitu kental dengan adat istiadat Jawa.
Hal tersebut berkaitan dengan cara ia dalam berdakwah menyebarkan Islam di Jawa Tengah.
Dalam sejarah dakwahnya, dipercayai Raden Sahid menggunakan perpaduan antara kebudayaan atau tradisi Jawa dengan ajaran Islam.
Sebagai contoh, Raden Sahid atau Sunan Kalijaga mengangkat kesenian wayang kulit, beserta lagu-lagu tradisional yang diiringi oleh gamelan dan alat musik tradisional Jawa lainnya.
Caranya melakukan pendekatan dengan seni dan budaya Jawa tersebut, membuat dakwah Sunan Kalijaga dapat diterima dengan baik pada masa itu.
Baca Juga: Siapa Bong Swi Hoo? Wali Asal Tionghoa yang Turut Menyebarkan Agama Islam, Benarkah Sunan Ampel?
Selain kesenian-kesenian di atas, Sunan Kalijaga juga kerap menyampaikan sebuah falsafah-falsafah tentang kehidupan yang sangat berarti.
Mengutip dari KBBI, falsafah merupakan anggapan, gagasan, dan sikap batin paling dasar yang dimiliki oleh orang atau masyarakat sebagai pandangan hidup.
Sama dengan pengertiannya, beberapa falsafah yang diajarkan oleh Sunan Kalijaga masih begitu relevan hingga saat ini.
Salah satu falsafah dalam bahasa Jawa yang diajarkan Sunan Kalijaga berbunyi "Datan Serik Lamun Ketaman, Datan Susah Lamun Kelangan".
Dikutip SketsaNusantara.id dari lppm.stkippgriponorogo.ac.id yang merujuk pada Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Literasi, Karakter, dan Kearifan Lokal, Arti dari falsafah Jawa ajaran Sunan Kalijaga "Datan Serik Lamun Ketaman, Datan Susah Lamun Kelangan" adalah jangan gampang sakit hati manakala musibah menimpa diri, jangan sedih/susah manakala kehilangan sesuatu.
Artikel Terkait
Indonesia Disebut Sudah Masuk Zaman Kalabendu, Apa Itu? Berikut Ciri-Cirinya Menurut Ramalan Jayabaya
Apa Arti Kelir dalam Wayang Kulit? Salah Satu Media Utama yang Tidak Boleh Terlewat dalam Pementasan Wayang
Siapa Sunan Nyamplungan? Ulama Legendaris yang Dikenal dengan Syiar Islam Damai di Kepulauan Karimunjawa
Apa Makna Topo Ngeli? Metode Dakwah Sunan Muria yang Mendalam dan Penuh Filosofis
Roda Kehidupan Terus Berputar, Benarkah Zaman Kalasuba yang Paling Ditunggu?