Falsafah tersebut mengajarkan untuk senantiasa bersabar ketika menghadapi musibah baik kecil maupun besar.
Musibah mendatangkan hikmah yang merupakan bentuk pembelajaran bagi diri seseorang.
Kemudian pada arti kedua, yakni mengajarkan bahwa seluruh hal yang ada di dunia (bumi) hanyalah titipan oleh Allah SWT, maka jangan bersedih akan sesuatu yang telah hilang, melainkan ikhlas.***
Artikel Terkait
Indonesia Disebut Sudah Masuk Zaman Kalabendu, Apa Itu? Berikut Ciri-Cirinya Menurut Ramalan Jayabaya
Apa Arti Kelir dalam Wayang Kulit? Salah Satu Media Utama yang Tidak Boleh Terlewat dalam Pementasan Wayang
Siapa Sunan Nyamplungan? Ulama Legendaris yang Dikenal dengan Syiar Islam Damai di Kepulauan Karimunjawa
Apa Makna Topo Ngeli? Metode Dakwah Sunan Muria yang Mendalam dan Penuh Filosofis
Roda Kehidupan Terus Berputar, Benarkah Zaman Kalasuba yang Paling Ditunggu?