Namun ternyata peristiwa terjadi. Istri Sunan saat itu lupa tidak menyiapkan hidangan seperti biasanya. Betapa terkejutnya seluruh anggota keluarga.
Sang istri Sunan sebelum Maghrib hanya memasak kue sederhana. Bahannya campuran tepung, gula, tape dan santan kelapa. Bentuknya bulat. Dimasak dengat alat sederhana.
Untung sang istri Sunan membuatnya dalam jumlah banyak. Sehingga para tetangga yang hadir dapat jatah masing-masing secara proporsional. Sebagian ada yang langsung dimakan di lokasi. Sebagian ada yang dibawa pulang sebagai ambengan.
Baca Juga: Rahasia Bertahannya Kesultanan Yogyakarta: Warisan Piwulang Sunan Kalijaga yang Terus Dijaga
Meski demikian, Sunan tetap merasa bersalah. Karena tidak menghidangkan makanan dan minuman sebagaimana biasanya.
Maka saat menyuguhkan kue sederhana itu, Sunan sambal berkata: ’afwan minkum. Artinya, saya minta maaf kepada kalian semua. Sebuah pengakuan yang tulus dan ikhlas dari seorang Sunan kepada para tetangga yang hadir.
Namun sebagaimana biasanya, para tetangga yang datang tidak mampu mengucapkan kalimat itu dengan fasih. Meski mereka mengetahui maksud Sunan mengatakan kalimat itu. Karena setelah kalimat Bahasa Arab itu, Sunan menyertainya dengan: ngapunten (mohon maaf).
Yang didengar para tetangga saat itu sekilas hanya kata apem. Sebagai pemahaman dari kalimat ’afwan minkum yang diucapkan Sunan. Pemahaman itu lambat laun menyebar dan bertahan hingga sekarang. Tidak mengherankan jika sampai saat ini, kue apem selalu ada dalam tradisi megengan. Baik di kota maupun hingga ke pelosok desa.
Akulturasi
Masyarakat Jawa yang filosofis tentu punya makna tersendiri dari simbol kue apem. Sebuah pengakuan terhadap perilaku selama ini yang salah. Permohonan maaf itu disampaikan secara tulus kepada semua orang. Tidak membedakan latar belakang status sosialnya.
Tradisi megengan juga mengajarkan kaum muslim untuk berbagi. Meski yang diberikan makanan sekedarnya. Namun Islam menegaskan niat berbagi yang ikhlas akan jauh lebih besar pahalanya dari yang makanan dibagi.
Megengan juga diidentifikasi sebagai media dakwah yang dilestarikan dari Wali Songo. Semua media yang digunakan tidak menggunakan kekerasan. Tapi lebih menggunakan saluran yang sudah disenangi masyarakat. Sehingga yang dilakukan adalah akulturasi tradisi lokal itu dengan nilai-nilai keislaman.
Silaturahim secara sosial juga menjadi sisi positif dari tradisi megengan. Melimpahnya berbagai kecanggihan media sosial terus menggerus tali silaturahim yang dilakukan secara langsung. Tentu nilai-nilai positif akan lebih banyak diperoleh daripada interaksi yang dilakukan melalui media sosial.
Tradisi megengan menjadi adanya upaya penghormatan terhadap peninggalan nenek moyang. Tentu setelah diakulturasikan dengan nilai-nilai Islam ke dalamnya. Ini karena, menurut Prof Masdar Hilmy (2022), kecenderungan Islam itu tidak pernah tunggal. Meski secara teologi memang satu, tetapi tetap ada perbedaan di lapangan. Sehingga sikap anti tradisi dinilai tidak relevan.
Sebagai implementasi Islam Nusantara, tentu megengan memiliki persamaan dengan Islam di belahan dunia yang lain. Terutama adalah sifat universalitas Islam itu sendiri. Sedangkan yang membedakan, menurut Irfan Afifi (2022), adalah adat budaya dan tradisi lokal yang diekspresikan dalam keberagamaan melalui megengan.
Artikel Terkait
Pertemuan Terakhir Puntadewa dengan Sunan Kalijaga, Perjalanan Sebelum Moksa Ditemani Seekor Anjing yang Ternyata Sosok Dewa Pelindung Pandawa
Lakon Wayang Sunan Kalijaga yang Paling Diminati saat Dakwah Islam di Tanah Jawa, Sarat Makna dan Pesan Spiritual
Ada Garis Keturunan Sunan Kalijaga dan Syekh Siti Jenar di Gus Dur, Inilah Warisan Toleransi untuk Islam di Nusantara
Rahasia Bertahannya Kesultanan Yogyakarta: Warisan Piwulang Sunan Kalijaga yang Terus Dijaga