Minggu, 19 Juli 2026

Isra' Mi'roj dan Tantangan di Era Digital

Photo Author
Tim Redaksi Sketsa Nusantara, Sketsa Nusantara
- Jumat, 16 Januari 2026 | 05:35 WIB
Azlan Adam (SketsaNusantara.id)
Azlan Adam (SketsaNusantara.id)

 

Oleh: Azlan Adam*

SketsaNusantara.id - Isra’ Mi‘raj adalah peristiwa penting dalam sejarah Islam. Dalam satu malam, Nabi Muhammad SAW diperintahkan oleh Allah dari Masjidil Haram menuju ke Masjidil Aqsha, naik ke langit untuk menerima perintah salat lima waktu. Peristiwa ini mengajarkan kepada kita betapa pentingnya iman dan hubungan manusia dengan Allah. Di zaman sekarang, dikenal dengan era digital ketika dunia sudah dikuasai oleh teknologi dan internet, makna dari Isra’ Mi‘raj tetap sangat relevan untuk kehidupan kita.

Saat ini kita hidup di era digital. Hampir semua orang memiliki ponsel. Dengan ponsel, kita bisa meriset informasi, ngobrol dengan siapa saja, dan menikmati berbagai hiburan kapan pun. Namun, Digital ini membuat kita untuk kemudahan membawa tantangan bagi keimanan kita. Salah satu tantangan terbesar dalam diri kita adalah kebiasaan terlalu sering menggunakan ponsel. Banyak orang yang menghabiskan waktu hanya untuk bersenang-senang menggunakan media sosial, bermain game sampai lupa waktu. Bahkan ada yang menunda atau meninggalkan salat. Jika hal yang seperti ini terus terjadi, hubungan kita dengan Allah menjadi lemah. Karena itu, kita perlu lebih bijak dalam menggunakan ponsel agar tidak melalaikan ibadah dan kewajiban kita kepada Allah.

Baca Juga: Lebih 40 Hari Usai Banjir Sumatera, Desa Terisolir di Aceh Tengah Masih Bertahan, Nakes Seberangi Sungai Deras Demi Layani Warga

Tantangan kedua adalah kurangnya ketenangan hati. Terlalu banyak informasi dan hiburan membuat pikiran kita menjadi lelah. Kita sering merasa gelisah, mudah marah, dan sulit fokus. Padahal, dalam Isra’ Mi‘raj kita diajarkan bahwa ketenangan sejati datang dari mendekat kepada Allah melalui salat dan zikir.

Tantangan lainnya adalah mudahnya mengakses hal-hal yang tidak baik, seperti konten negatif, berita hoax, dan pergaulan yang tidak sehat di dunia maya. Semua ini bisa merusak iman dan akhlak, terutama bagi anak muda yang jaman sekarang ini.

Namun, Isra’ Mi‘raj juga memberi kita solusi untuk menghadapi tantangan tersebut. Solusi pertama adalah menjaga salat lima waktu. Salat adalah hadiah terbesar dari peristiwa Mi‘raj. Jika kita menjaga salat tepat waktu dan dengan khusyuk, maka hati kita akan lebih kuat menghadapi godaan dunia digital. Salat membuat kita berhenti sejenak dari kesibukan layar dan kembali mengingat Allah.

Baca Juga: Presiden Prabowo Kumpulkan 1.200 Rektor di Istana, Bahas Solusi Biaya Kuliah hingga Krisis Dokter

Solusi kedua adalah mengatur waktu penggunaan teknologi. Kita perlu disiplin dalam memakai ponsel dan internet. Misalnya, tidak bermain ponsel pada saat waktu salat, membatasi waktu media sosial, dan menggunakan internet untuk hal-hal yang bermanfaat seperti belajar dan membaca kajian. Dengan begitu, teknologi tidak akan menguasai hidup kita.

Solusi ketiga adalah mengisi dunia digital dengan hal-hal yang baik. Kita bisa meriset kajian-kajian dakwah, mengikuti akun-akun dakwah, menonton ceramah, membaca Al-Qur’an digital, dan berbagi pesan kebaikan. Jika dunia maya diisi dengan hal positif, maka iman kita juga akan ikut terjaga.

Solusi keempat adalah memperbanyak zikir dan doa. Di tengah kesibukan digital, kita perlu sering mengingat Allah agar hati tetap tenang. Zikir bisa dilakukan kapan saja, bahkan saat kita sedang memegang ponsel sekalipun.

Baca Juga: Teks Khutbah Jumat Tema Isra Miraj 1447 Hijriah, Menyejukkan Hati untuk Disampaikan pada 16 Januari Mendatang ‎

Isra’ Mi‘raj mengajarkan bahwa meskipun Nabi Muhammad SAW naik ke langit, beliau kembali ke bumi untuk berjuang dan membimbing umat. Ini berarti bahwa iman harus terlihat dalam perbuatan sehari-hari. Di era digital, kita harus tetap jujur, sopan, dan peduli, baik di dunia nyata maupun di dunia maya.

Pada akhirnya, Isra’ Mi‘raj di era digital mengingatkan kita bahwa teknologi boleh maju, tetapi iman tidak boleh tertinggal. Dengan menjaga salat, mengatur penggunaan teknologi, dan memperbanyak amal baik, kita bisa menghadapi tantangan zaman tanpa kehilangan arah hidup. Jika kita mampu menjalankan nilai-nilai Isra’ Mi‘raj, maka dunia digital akan menjadi sarana kebaikan, bukan sumber kerusakan.***

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Jangan Biarkan Kota Santri Kehilangan Jati Diri

Jumat, 26 Juni 2026 | 09:40 WIB

Sistem Keulamaan dan Ahwa Permanen dalam NU

Selasa, 16 Juni 2026 | 16:49 WIB

Refleksi Hardiknas 2026: Pendidikan dan Buku

Jumat, 1 Mei 2026 | 16:35 WIB

Menimbang Dampak AI pada Nalar Generasi Bangsa

Kamis, 30 April 2026 | 12:05 WIB

Guru Pejuang Literasi

Selasa, 7 April 2026 | 10:35 WIB

Ketika Inklusi Berubah Menjadi Eksploitasi

Selasa, 24 Maret 2026 | 14:35 WIB

Idul Fitri dan Momentum Transformasi Digital UMKM

Kamis, 19 Maret 2026 | 13:30 WIB

Gus Dur, Cina dan Islam

Kamis, 19 Februari 2026 | 21:25 WIB
X