Minggu, 19 Juli 2026

Teladan Kebangsaan Ibrahim dalam Kitab Maulid Diba’

Photo Author
Tim Redaksi Sketsa Nusantara, Sketsa Nusantara
- Senin, 8 Desember 2025 | 22:10 WIB
Syarif Hidayat Santoso (SketsaNusantara.id)
Syarif Hidayat Santoso (SketsaNusantara.id)

 Baca Juga: Mengapa Aceh Darussalam Mengalami Kemunduran? Fakta Sejarah yang Terungkap dari Konflik Internal hingga Campur Tangan Bangsa Eropa

Dalam hal logika berketuhanan Ibrahim terkenal dalam logikanya terhadap bintang, bulan dan matahari. Dalam logika tauhid Ahlu Sunnah Wal Jamaah, logika ini merupakan penyelarasan antara pengetahuan batiniah dengan pengetahuan zahir. Artinya dalam pengetahuan makrifat batin Ibrahim sudah diketahui bahwa bulan, bintang, matahari bukanlah Tuhan dan itu dibenarkan melalui observasi rasionalnya. Para nabi dikarunai makrifat yang sempurna sehingga mustahil para nabi tak mengenal Tuhannya apalagi sampai menyembah benda-benda langit. Ibrahim disebut dalam Al Anbiya’ 51 memiliki rusydah kebenaran sempurna sehingga takkan mungkin menyembah selain Allah. Logika observasif inilah yang kemudian digunakan Ibrahim ketika berdebat dengan penyembah berhala dan bintang.

Dalam hal kebangsaan logika observasi ini penting agar nalar kita tidak ditumpulkan nalar adu domba. Logika yang berupaya mempertemukan aspek batin dengan logika kemasyarakatan agar kebangsaan kita mencapai titik maksimal. Kebangsaan yang melihat bahwa ada perbedaan dalam kehidupan kita namun tetap harus diobservasi menuju keimanan sempurna tanpa harus berpecah belah. Meski kita berbeda-beda, namun kita harus tetap ingat doa Ibrahim seperti yang tertuang dalam surat Ibrahim 40, “Du Pangeran kaula, gha-mogha Ajunan madhaddhi kaula-kaula sareng na’ poto kaula oreng se maddhek sholat”. Bahwa ada keturunan Ibrahim yang kafir seperti sebagian Bani Israil atau Kafir Quraisy itu memang kita akui sebagai realitas. Namun doa Ibrahim agar anak cucunya tetap menjadi orang beriman adalah idealitas yang harus tetap diperjuangkan.***

Penulis adalah warga Sumenep, Pemerhati Sejarah Agama-Politik-Kebudayaan.

Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini! 

 

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Jangan Biarkan Kota Santri Kehilangan Jati Diri

Jumat, 26 Juni 2026 | 09:40 WIB

Sistem Keulamaan dan Ahwa Permanen dalam NU

Selasa, 16 Juni 2026 | 16:49 WIB

Refleksi Hardiknas 2026: Pendidikan dan Buku

Jumat, 1 Mei 2026 | 16:35 WIB

Menimbang Dampak AI pada Nalar Generasi Bangsa

Kamis, 30 April 2026 | 12:05 WIB

Guru Pejuang Literasi

Selasa, 7 April 2026 | 10:35 WIB

Ketika Inklusi Berubah Menjadi Eksploitasi

Selasa, 24 Maret 2026 | 14:35 WIB

Idul Fitri dan Momentum Transformasi Digital UMKM

Kamis, 19 Maret 2026 | 13:30 WIB

Gus Dur, Cina dan Islam

Kamis, 19 Februari 2026 | 21:25 WIB
X