Oleh: Syarif Hidayat Santoso
SketsaNusantara.id - Adalah Nabi Ibrahim yang tersebut dalam Maulid Diba’ dengan penggambaran yang menarik. Qiila Huwa Ibrahim, Qoola Ibrahimu Bihi Taqumu Hujjatuhu Ala Ubbadil Ashnam Wal Kawakib. “Dikatakan dia adalah Ibrohim, Allah menjawab, karena dia hujjah Ibrahim kuat mengalahkan penyembah berhala dan bintang”. Kalimat ini seakan tak ada kaitannya dengan kebangsaan dan toleransi. Kalimat ini justru menunjukkan superioritas Islam terhadap non muslim. Lebih flamboyan lagi, ketika berhujjah di hadapan penyembah berhala, Maulid Diba’ menyebut berhala atau patung dengan sebutan Ashnam sebagaimana quran menyebut ashnam dalam kisah Ibrahim. Khusus kata Ashnam dalam konteks Ibrahim menunjukkan nuansa kebanggaan kaum musyrik yang menyembah berhala itu. Berbeda dengan lafal autsan dan tamattsil yang juga berarti patung, ashnam lebih konkret lagi dalam menggambarkan patung sebagai berhala yang disembah. Di sini terlihat superioritas Islam, bahwa hujjah Ibrahim mampu mematahkan para penyembah berhala yang begitu membanggakan sesembahannya itu.
Namun apakah ada nilai kebangsaan yang diajarkan Ibrahim ketika berhadapan dengan kaum non muslim tersebut? Nilai-nilai universal yang dengan nilai-nilai itu komitmen kebangsaan kita menjadi kokoh dan beradab. Sebagaimana dibahas dalam kisah Nabi Nuh yang menjelaskan bahwa bakal ada manusia yang akan kafir, demikian juga keturunan Ibrahim. Quran melukiskan bahwa akan ada juga keturunan Ibrahim yang akan menjadi zalim. Faktanya, keturunan Ibrahim yang paling terkenal yaitu Bani Israil dari jalur Ishaq dan Quraisy dari jalur Ismail ada yang ingkar terhadap kenabian.
Begitupun lawan Ibrahim dalam debat ketuhanan yaitu Namrud. Namrud jelas merupakan keturunan Nabi Nuh melalui putranya, Ham. Silsilah kitab-kitab lama menyebut Namrud Bin Cush Bin Ham Bin Nuh. Namrud merupakan asal muasal bangsa Babilon kuno yang ada di Iraq. Sementara Ibrahim sendiri berasal dari bangsa Ibrani di mana tersebut bahwa bangsa Ibrani merupakan keturunan Amir Bin Syalikh Bin Arfaksyad Bin Sam Bin Nuh. Silsilah bangsa Ibrani ini disebut oleh Majid Hasan Bahafdullah (2010) bersaudara dengan bangsa Arab kuno yang bermula dari Qahtan Bin Abir Bin Shalikh Bin Arfaksyad Bin Syam Bin Nuh.
Ibrahim adalah sosok yang berpindah-pindah tempat. Sesaat setelah dibakar Namrud, Ibrahim pindah ke negeri Palestina. Pindahnya Ibrahim ke lain negeri itu bermotifkan kebaikan. Quran terjemah Madura menyebutnya, “Ban Ibrahim ngoca’, Saongghuna sengko’ mangkadha (kangguy ngadhep) da’ tang Pangeran. Salerana Allah Bhakal apareng petodhu da’ sengko’ (Ash Shaffat 99). Di Babilon Ibrahim berbuat kebaikan, begitupun ketika di Palestina. Begitupun juga ketika di Mesir dan Makkah. Tak hanya motif, Ibrahim juga meninggalkan jejak kebaikan di negeri-negeri itu. Aman dan makmurnyanya negeri Mekkah sejak Ibrahim sampai kini juga merupakan jejak sejarah Ibrahim.
Inilah nalar kebangsaan yang seharusnya kita pegang. Akhir-akhir ini nalar kebangsaan ini diserang dengan istilah penjajahan para imigran. Ada dua komunitas yang tertuduh, yaitu komunitas Yaman dan Tionghoa. Keduanya tertuduh sebagai penjajah negeri ini, baik penjajah spiritual maupun penjajah ekonomi. Cara berpikir ini harus kita lawan. Ibrahim merupakan teladan bahwa standar berpikir seorang mukmin yang baik adalah kontribusi kebaikannya pada negeri tempat berpijak. Bukan narasi pribumi-non pribumi atau penjajahan imigran.
Di Mekkah Ibrahim mendoakan negeri itu bahkan sejak Mekkah masih gurun tanpa penghuni (baladan) hingga Mekkah menjadi kota yang ada penduduknya (al balad). Perlu diketahui juga bahwa yang meramaikan Mekkah pada masa Ismail adalah suku Jurhum yang masih keturunan Qahtan. Semua penduduk Mekkah bukanlah asli Mekkah. Ibrahim orang Ibrani dari kota Babilon, Hajar adalah orang Qibti Mesir, sedang istri Ismail adalah Ra’la Binti Mudad dari suku Jurhum. Tapi mereka berbuat kebaikan untuk Mekkah. Mereka mendoakan Mekkah, membuatnya jadi subur, menjadikan Mekkah aman, membangun Ka’bah dan di masa kemudian menyemarakkannya dengan perdagangan.
Nalar pribumi-non pribumi atau penduduk asli-imigran justru merupakan nalar yang aneh bagi kebangsaan kita. Bukankah kita semua pendatang di bumi Nusantara. Nenek moyang kita sebagaimana tersebut dalam sejarah bermula dari tiga putra Nabi Nuh yaitu Sam, Ham dan Yafits. Domisili ketiganya dan juga anak cucunya pada awalnya di seputaran Mesopotamia lalu menyebar ke seluruh dunia. Keturunan Yafits Bin Nuh inilah yang disinyalir merupakan cikal bakal bangsa Indonesia karena dilihat dari arah perpindahannya yang menuju ke timur. Namun, hari ini bangsa Indonesia dihuni anak cucu yang merupakan campuran dari ketiga putra Nuh tersebut. Ada keturunan Timur Tengah yang merupakan keturunan Sam. Ada keturunan Eropa yang merupakan keturunan Ham. Ada keturunan Cina merupakan keturunan Yafits dan kombinasi dari ketiganya.
Dengan demikian dalam hal kebangsaan, sejak zaman Ibrahim telah terjadi tatap muka antar bangsa-bangsa satu keturunan namun telah berbeda-beda. Disinilah perlunya idealitas yang tetap memperhatikan realitas. Idealitas untuk mengajak orang agar tetap beriman adalah sesuatu yang harus tetap dilakukan namun realitas memperlihatkan bahwa tetap akan ada juga orang-orang yang tak beriman bahkan meski telah kalah dalam hujjah.
Kebangsaan Ibrahim selain disandarkan pada tolak ukur kontribusi kebaikan bagi negara juga bisa dilihat dalam kesantunan relasi antar umat beragama. Ketika menegur bapaknya (pamannya) yaitu Tarah atau Terrus yang menyembah berhala, Ibrahim berujar dengan santun. Surat Maryam ayat 43 melukiskan, “Du Rama kaula, saestona ampon datang da’ kaula sabagiyan elmo se ta’ datang da’ panjhennengngan maka eatore panjhennengngan ngereng kaula, kaula bakal ngatore pameyarsa da’ panjhennengngan jhalan se loros”.
Ajakan Ibrahim di atas merupakan ajakan dengan bahasa santun, beradab dan bertatakrama. Lihatlah ayat diatas!. Ibrahim menyebut bahwa telah datang ilmu kepada Ibrahim namun tidak datang kepada pamannya yang menyembah berhala. Ibrahim tidak berkata kasar dengan ungkapan, sesungguhnya aku berilmu dan anda tidak, sesungguhnya aku alim dan engkau jahil, sehingga menyebabkanmu menyembah berhala. Ibrahim berdakwah dengan bahasa santun.
Artikel Terkait
Maulid, Kebangsaan dan Buku Sirah Nabawiyah