Aan Rochayanto*
SketsaNusantara.id - Hari ini genap 11 Tahun Partai Solidaritas Indonesia (PSI) berdiri dan ikut membersamai proses Pemilu selama dua kali yaitu 2019 dan 2024.
Meskipun belum bisa menjadi partai yang mampu mengirimkan kadernya ke parlemen di Senayan, namun PSI sudah mampu mengirimkan kadernya di legislatif daerah baik di tingkat satu dan juga tingkat dua.
Hal ini menjadi bukti bahwa PSI sudah dipercaya masyarakat untuk menjadi tumpuan penyaluran aspirasi mereka.
Baca Juga: Pengakuan yang Tertunda: Mengapresiasi Keberanian Marsinah dalam Perspektif Baru
Meskipun sebenarnya, aspirasi masyarakat dalam Negara dengan sistem Demokrasi tidak akan cukup di tampung oleh partai saja. Banyak ruang yang belum terjamah oleh visi misi partai untuk mengejawentahkan keinginan masyarakat. Hal ini terbukti dari berbagai pemilu di negeri ini selalu ada yang tidak menyalurkan suaranya.
Namun semuanya itu menjadi bagian dari kemajemukan prinsip berbangsa dan bernegara setiap individu anak bangsa. Kemajemukan prinsip berbangsa dan bernegara itulah, yang sebenarnya menjadi dasar lahirnya Partai Solidaritas Indonesia.
DNA partai ini adalah kebajikan dan keragaman. Kebajikan dapat diartikan sebagai perbuatan baik dan menjunjung nilai-nilai luhur bangsa yang melahirkan sikap anti korupsi. Ini menjadi pegangan bagi kader PSI disemua tingkatan.
Baca Juga: Gus Dur dan Pahlawan Nasional
Keragaman dapat diartikan bahwa kita tidak monokultur, kita terdiri dari berbagai anak bangsa yang memiliki adat, budaya dan kepercayaan berbeda yang memiliki tujuan yang sama akan kemanusiaan, persatuan dan keadilan sosial, serta menjunjung nilai-nilai toleransi.
DNA inilah yang dicerminkan oleh legislator Kita di daerah tingkat satu dan daerah tingkat dua, dalam merajut demokrasi dan menjadi penyambung lidah rakyat.Tidak korupsi dan tidak melakukan intoleran baik dalam sikap dan kebijakan.
PSI masa depan.
Dalam ulang tahun ke sebelas ini, PSI mengusung tema "Udayah Nafasaktih" dalam bahasa Sansekerta. Artinya adalah kebangkitan dan kekuatan baru.
Baca Juga: Menyingkap Tabir Urgensi Peran Perempuan dan Bahaya Laten Pola Pikir Misogini
Tema ini menjadi arah gerakan kita menuju Pemilu 2029, bahwa kita akan menjadi partai besar dan memiliki kekuatan yang besar. Kekuatan yang menjadi cerminan tampungan cawan demokrasi kita.
Artikel Terkait
Dari Jawa Timur, Cahaya Peradaban Menyala: Refleksi Hari Jadi Jawa Timur dan Katalisator Ketokohan Perempuan
Organisasi, Jalan Keselamatan: Meneguhkan Peran Intelektual Organik di Tengah Krisis Makna Pemuda
Kearifan Pesantren dan Kecerobohan Trans7
Dari Bahasa ke Budaya, Menjaga Identitas Indonesia dalam Arus Globalisasi
Berbagai “Rekor” Marsinah Sebagai Pahlawan Nasional
Dari Hancurit ke Anjay: Melebur Makna, Menempa Nalar
Kasus Pak Eko dan Tugas Berat Guru
Menyingkap Tabir Urgensi Peran Perempuan dan Bahaya Laten Pola Pikir Misogini
Gus Dur dan Pahlawan Nasional
Pengakuan yang Tertunda: Mengapresiasi Keberanian Marsinah dalam Perspektif Baru