Kamis, 4 Juni 2026

Bukan Sekedar Jumlah Hari Sekolah, Keluarga Berpengaruh Besar Terhadap Pendidikan Anak

Photo Author
Tim Redaksi Sketsa Nusantara, Sketsa Nusantara
- Selasa, 16 September 2025 | 09:20 WIB
Mukani (dok.SketsaNusantara.id)
Mukani (dok.SketsaNusantara.id)

Di samping itu, durasi untuk berinteraksi sosial yang dilakukan anak di keluarga jauh lebih banyak dibandingkan dengan di sekolah dan masyarakat. Jika suasana dalam keluarga itu baik dan menyenangkan, maka anak akan tumbuh dengan baik pula. Jika tidak, tentu akan terhambat pertumbuhan anak tersebut. Sehingga pendidikan yang paling banyak diterima oleh anak adalah keluarga.

Keluarga, menurut Ki Hajar Dewantara, adalah pusat pendidikan yang pertama dan yang terpenting. Oleh karena sejak timbulnya adab-kemanusiaan hingga kini, hidupnya keluarga selalu mempengaruhi bertumbuhnya budi pekerti dari tiap-tiap manusia. Posisi keluarga dalam mensukseskan tujuan pendidikan diakui sangat penting.

Daniel M Rosyid (2016) mengidentifikasi peran keluarga seperti inilah yang harus makin dioptimalkan dalam dunia pendidikan di era internet ini. Ini karena pendidikan Indonesia, baginya, pada beberapa dekade terakhir, sudah makin jauh dari cita-cita mulia para tokoh pendidikan Indonesia, seperti Ki Hajar Dewantara, KH Ahmad Dahlan, KH M Hasyim Asy’ari dan sebagainya.

Baca Juga: Kenapa Hari Santri Diperingati Tiap Tanggal 22 Oktober? Berikut Sejarah hingga Kaitannya dengan KH Hasyim Asy’ari

Pemaknaan yang sempit bahwa pendidikan adalah persekolahan menjadi alasan utama kondisi ini. Belajar hanya diartikan harus di sekolah. Kebijakan wajib belajar diinterpretasikan sebagai wajib sekolah. Peran keluarga hanya direduksi sebagai tempat menyiapkan sarapan dan makan malam. Sedangkan sekolah memikul tanggung jawab sebegitu besar dalam membersamai tumbuh kembang anak.

Beban Kurikulum

Faktor kedua yang luput dari kajian substantif adalah perubahan kurikulum di Indonesia dengan berbagai agendanya di lapangan. Meski disadari bahwa perubahan kurikulum adalah sebuah keniscayaan. Tidak bisa dipungkiri, apalagi dihindari. Kemajuan zaman dan kecanggihan sains menjadi faktor pemicunya. Kebutuhan dalam menyiapkan generasi bangsa di era milenial juga mengharuskan perubahan.

Namun perubahan itu bukan seharusnya sekedar berubah. Perbaikan secara substantif diperlukan sebagai panglima dalam perubahan kurikulum. Bukan sekedar pergeseran kulit dengan merubah istilah yang lebih bersifat administratif. Sehingga yang lahir kurikulum benar-benar merdeka, bukan kurikulum yang disusun mereka.

Baca Juga: Bikin Kangen! 5 Permainan Tradisional Indonesia Ini Punya Sejarah, Filosofi, dan Manfaat yang Baik untuk Anak, Sayangnya Kini Sudah Jarang Dimainkan

Perubahan kurikulum diharapkan akan memberi pencerahan bagi pendidikan di Indonesia. Proses pembelajaran yang berlangsung selama ini disadari telah “merebut” hak-hak siswa untuk mengembangkan potensi dan kreativitasnya di luar sekolah. Hal ini sesuai dengan kondisi psikologis siswa yang membutuhkan variasi mengajar dari guru untuk mengurangi kebosanan di dalam kelas.

Pendidikan karakter dalam implementasi kurikulum merdeka (IKM) yang belum berhasil hingga sekarang harus dicarikan solusi. Frekuensi antara model sekolah dengan model pendidikan di rumah belum menemukan sinkronisasi. Program yang diusung sekolah, menurut Akh. Muzakki (2017) disinyalir lebih kapitalisasi, mengakumulasi atau menjadikan tradisi yang hidup (living tradition). Ibarat dua rel kereta api, meski berdampingan, keduanya tidak ketemu sekalipun di ujungnya.

Pada perspektif lain, keteladanan dari para guru mutlak diperlukan dalam penguatan pendidikan karakter. Guru, sebagai orang tua siswa di sekolah, merupakan sosok yang paling dekat dengan siswa. Berbagai keteladanan dari guru akan dengan mudah dan langsung bisa ditiru siswa. Mengingat krisis yang menimpa Indonesia sejak 1998, menurut Salahuddin Wahid (2013), sebenarnya bermuara dari adanya krisis keteladanan.

Baca Juga: Sampaikan Duka Mendalam Pasca Kecelakaan Maut, Gubernur Jatim Khofifah dan Bupati Jember Gus Fawait Melayat ke Rumah Keluarga

Kondisi tugas berat pendidikan ini belum ditambah masih beratnya beban kurikulum yang berlaku di Indonesia. Dari segi jumlah jam pelajaran setiap pekan, Indonesia masih tergolong terlalu tinggi, yaitu 42. Sedangkan Korea Selatan (34), Jepang (30), Malaysia (41-45), Srilanka (28), Filipina (36), Australia (25), Cina (36) dan Vietnam (33).

Dari segi jumlah hari efektif masuk sekolah setiap tahun, Indonesia masih 225 hari. Ini masih jauh lebih banyak dibandingkan Vietnam (165-168), Korea Selatan (220), Jepang (210), Malaysia (204), Srilanka (210), Thailand (200), Australia (196-201) dan Jerman (190). Banyaknya waktu yang dihabiskan siswa di sekolah justru membuat siswa merasa tidak fresh lagi mengikuti pelajaran di kelas.

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Refleksi Hardiknas 2026: Pendidikan dan Buku

Jumat, 1 Mei 2026 | 16:35 WIB

Menimbang Dampak AI pada Nalar Generasi Bangsa

Kamis, 30 April 2026 | 12:05 WIB

Guru Pejuang Literasi

Selasa, 7 April 2026 | 10:35 WIB

Ketika Inklusi Berubah Menjadi Eksploitasi

Selasa, 24 Maret 2026 | 14:35 WIB

Idul Fitri dan Momentum Transformasi Digital UMKM

Kamis, 19 Maret 2026 | 13:30 WIB

Gus Dur, Cina dan Islam

Kamis, 19 Februari 2026 | 21:25 WIB

Kiprah Kiai Kampung Memajukan Nusantara

Kamis, 5 Februari 2026 | 17:35 WIB

Kebijakan Kuota Haji: Adakah Pelanggarannya?

Senin, 26 Januari 2026 | 09:14 WIB
X