Minggu, 19 Juli 2026

Catatan 4 Tahun Promedia: Ironi Penulis yang Gagal Membaca, Saat Rumah Insan Jurnalisme Diserang oleh Mereka yang Enggan Memahami

Photo Author
Boy Nugroho, Sketsa Nusantara
- Jumat, 4 Juli 2025 | 18:03 WIB
Selamat ulang tahun ke-4 Promedia Teknologi Indonesia! (Pexels/cottonbro studio)
Selamat ulang tahun ke-4 Promedia Teknologi Indonesia! (Pexels/cottonbro studio)


SketsaNusantara.id - Puluhan artikel bertumpuk di kotak surel menunggu giliran diperiksa. Setiap judul terasa mendesak, seolah meminta dibereskan segera. Di layar, huruf-huruf berlarian, dan di sudut meja, secangkir kopi pagi sudah kehilangan hangatnya.

Tiba-tiba sebuah notifikasi muncul di layar ponsel. Seorang kawan editor meminta untuk cek di tautan yang ia berikan. Rupanya, lini masa sedang ramai, percakapan liar meletup di media sosial.

Promedia Teknologi Indonesia, rumah bagi para jurnalis dan Content Creator (CC), jadi sasaran makian. Tuduhan datang bertubi-tubi, menyebut perusahaan ini hanya membayar penulis dengan upah yang bahkan tak cukup untuk ongkos parkir.

Baca Juga: Mediapreneur Talks Banten: Promedia Ajak Jurnalis Hadapi Era Disrupsi Informasi

Dalam hitungan menit, ketenangan yang biasa mengiringi pekerjaan itu berubah menjadi riuh tak keruan.

Ironi Penulis yang Gagal Membaca

Promedia Teknologi Indonesia berdiri sebagai rumah besar ekosistem jurnalisme digital di Indonesia. Di bawah naungannya, berbagai media daring, reporter, hingga CC berjejaring bekerja sama untuk menghidupkan industri media.

Baca Juga: Promedia Gelar Mediapreneur Talks di Banten, Ungkap Jurus Bertahan Media Lokal di Tengah Tekanan Digital

Sebuah jaringan yang luas, dengan misi untuk memajukan jurnalisme Indonesia ke tingkat yang lebih tinggi: Expanding Universe, The Future of Digital Media Ecosystem.

Namun, serangan di linimasa itu menunjukkan betapa sebagian orang yang ingin jadi penulis justru enggan menjadi pembaca.

Padahal, Promedia sejak awal sudah sangat jelas, yakni sebagai perusahaan teknologi media, dan hanya memfasilitasi mitra-mitra medianya.

Baca Juga: CoreLab 2025 Hadir di FISIP UNTIRTA, Promedia Ajak Mahasiswa Gen Z Kuasai Dunia Content Creator dan Bisnis Digital Masa Kini

Para penulis atau CC bekerja untuk media mitra itu, bukan untuk Promedia secara langsung. Ada yang berbasis performa (traffic), ada yang dengan gaji tetap, masing-masing sepenuhnya kebijakan media yang ditempati.

Semua sudah dipaparkan tuntas saat seleksi awal di tahap penjelasan konsep bisnis, bahkan disampaikan berulang-ulang. Namun rupanya, banyak yang lebih cepat membuat kesimpulan daripada membaca. Banyak yang lebih cepat marah daripada memeriksa.

Ironi ini terlalu telanjang. Mereka yang ingin dikenal sebagai penulis, ternyata tak mau membaca.

Baca Juga: Promedia Hadirkan BRI Mediapreneur Talks di Serang: Peluang Baru untuk Media Lokal Bertahan di Era Disrupsi

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Jangan Biarkan Kota Santri Kehilangan Jati Diri

Jumat, 26 Juni 2026 | 09:40 WIB

Sistem Keulamaan dan Ahwa Permanen dalam NU

Selasa, 16 Juni 2026 | 16:49 WIB

Refleksi Hardiknas 2026: Pendidikan dan Buku

Jumat, 1 Mei 2026 | 16:35 WIB

Menimbang Dampak AI pada Nalar Generasi Bangsa

Kamis, 30 April 2026 | 12:05 WIB

Guru Pejuang Literasi

Selasa, 7 April 2026 | 10:35 WIB

Ketika Inklusi Berubah Menjadi Eksploitasi

Selasa, 24 Maret 2026 | 14:35 WIB

Idul Fitri dan Momentum Transformasi Digital UMKM

Kamis, 19 Maret 2026 | 13:30 WIB

Gus Dur, Cina dan Islam

Kamis, 19 Februari 2026 | 21:25 WIB
X