Menurutnya, pernyataan Fadli Zon terlihat sebagai penyangkalan ganda demi menghindari rasa bersalah, malu atau tidak nyaman pada pemerintah.
Pertama, penolakan langsung terhadap fakta dengan menyebutkan perkosaan massal pada Kerusuhan Mei 1998 adalah rumor.
Dan kedua, penyangkalan interpretatif Fadli Zon yang mengakui fakta Kerusuhan Mei 1998, namun menafsirkan secara berbeda dengan tone positif.
Penulis sepaham dengan Usman Hamid, bahwa penyangkalan atas pemerkosaan massal yang dialami sebagian besar oleh perempuan etnis Tionghoa justru akan memecah belah kesatuan bangsa.
Atau jangan-jangan, benar kata Usman Hamid bahwa pernyataan Fadli Zon merupakan penyangkalan atas rekomendasi kedua TGPF yang menyebutkan nama petinggi pemerintah sekarang: Syafrie Syamsoeddin dan Prabowo Subianto.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini!
Artikel Terkait
Profil Fadli Zon, Politikus Partai Gerindra Ditunjuk Menjadi Menteri Kebudayaan RI di Kabinet Merah Putih
27 Tahun Kesunyian Selepas Reformasi: Ketika Demokrasi Hanya Jadi Filter di Instagram dan TikTok
Bukan Aktivis atau Politikus, Sejarah Harus Ditulis Sejarawan, Bagaimana Nasib Sejarah Versi Rakyat?
Bantah Pernyataan Menteri Kebudayaan Fadli Zon, Template ‘Pemerkosaan Massal 1998 Adalah Fakta’ Bergema di Instagram
Fadli Zon Aktifkan Kolom Komentar di Instagram, Netizen Serbu IG Menteri Kebudayaan: Dulu Aktivis Sekarang Penjahat
4 Fakta Fadli Zon, Mantan Aktivis dan Doktor Sejarah yang Dihujat Netizen Usai Sebut Pemerkosaan Massal 1998 hanya Rumor