SketsaNusantara.id - Pernyataan Menteri Kebudayaan Fadli Zon membuka sekaligus menaburkan garam pada luka dan trauma para korban pemerkosaan massal dalam Kerusuhan Mei 1998.
Sebagai bagian dari pemerintah sekaligus aktivis sosial politik tahun 1990-an, Fadli Zon gagal memberikan kesempatan bagi para korban untuk menuntut keadilan lewat sejarah.
Rencana penulisan ulang sejarah dengan menggunakan pendekatan positif justru melahirkan reaksi negatif sebelum buku tersebut diluncurkan.
Fadli Zon dengan ringan mengatakan bahwa tidak ada bukti adanya pemerkosaan massal pada tragedi Kerusuhan Mei 1998.
Padahal berdasarkan data hasil temuan Tim Gabungan Pencari Fakta Peristiwa (TGPF) Kerusuhan Mei 1998, terjadi berbagai bentuk kekerasan seksual, termasuk di dalamnya pemerkosaan, pemerkosaan dan penganiayaan, penyerangan seksual/penganiayaan dan pelecehan seksual.
Dari data jumlah korban yang dilaporkan dan diverifikasi menurut sumber informasi, puluhan perempuan Indonesia menjadi korban kekerasan seksual dalam kerusuhan 1998.
Sebanyak 52 orang perempuan menjadi korban pemerkosaan, 14 orang korban pemerkosaan dan penganiayaan, 10 orang korban penyerangan/penganiayaan seksual dan 9 orang korban pelecehan seksual.
Angka tersebut hanyalah korban kekerasan seksual yang DILAPORKAN dan terverifikasi sampai akhir masa kerja TGPF.
Jumlah tersebut tidak termasuk puluhan bahkan mungkin ratusan korban lainnya yang tidak dilaporkan, yang hanya menjadi saksi bisu sejarah kelam bangsa yang menyebut dirinya Ibu Pertiwi.
Ita Fatia Nadia, Koordinator Divisi Kekerasan terhadap Perempuan dalam Seri Dokumen Kunci Temuan Tim Gabungan Pencari Fakta, Dokumentasi Awal Nomor 3, menegaskan, tidak adanya laporan perkosaan kepada instansi pemerintah bukan lantas disimpulkan bahwa peristiwa tersebut tidak terjadi.
Faktanya, informasi dari para saksi ahli justru menunjukkan terjadi kekerasan seksual, termasuk pemerkosaan dalam salah satu sejarah kelam bangsa Indonesia ini.
Minimnya laporan pemerkosaan juga merupakan dampak dari stigma yang hidup di masyarakat selama ini, bahwa ‘diperkosa’ merupakan aib yang disematkan kepada korban.
Artikel Terkait
Profil Fadli Zon, Politikus Partai Gerindra Ditunjuk Menjadi Menteri Kebudayaan RI di Kabinet Merah Putih
27 Tahun Kesunyian Selepas Reformasi: Ketika Demokrasi Hanya Jadi Filter di Instagram dan TikTok
Bukan Aktivis atau Politikus, Sejarah Harus Ditulis Sejarawan, Bagaimana Nasib Sejarah Versi Rakyat?
Bantah Pernyataan Menteri Kebudayaan Fadli Zon, Template ‘Pemerkosaan Massal 1998 Adalah Fakta’ Bergema di Instagram
Fadli Zon Aktifkan Kolom Komentar di Instagram, Netizen Serbu IG Menteri Kebudayaan: Dulu Aktivis Sekarang Penjahat
4 Fakta Fadli Zon, Mantan Aktivis dan Doktor Sejarah yang Dihujat Netizen Usai Sebut Pemerkosaan Massal 1998 hanya Rumor