Kentongan menjadi simbol kemenangan. Di masa lalu, musik glundengan turut dimainkan jika kemenangan itu diraih.
Baca Juga: Hari Kedua Libur Panjang, KAI Daop 9 Jember Catat Ribuan Penumpang Libur Panjang
Kini, meski hanya kentongan yang terdengar, esensinya tetap sama. Sebuah tradisi kecil yang mempererat persaudaraan antar pecinta merpati. Sering kali, tetangga datang membawa ucapan selamat dan secangkir kopi. Kadang disambung dengan hidangan sederhana, sebagai bentuk syukur atas keberhasilan ritual.
Hari-hari Budi masih selalu tentang merpati. Memberi makan, melatih terbang ke pajudun, meracik jamu, hingga merenovasi rumah burung kesayangannya agar tetap layak dan estetis.
“Merpati ini soal harga diri,” ujarnya pelan.
Menurut Budi, bukan karena mahal, tapi karena dalam tubuh kecil itu tersimpan nilai-nilai warisan, seni, dan spiritualitas yang hanya bisa dirasakan oleh hati yang sungguh-sungguh mencintai.
Dan di Ajung, cinta itu hidup. Dalam mantra, kentongan, dan sayap-sayap kecil merpati yang terbang kembali ke rumahnya setiap pagi.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini
Artikel Terkait
Berdiri Sejak Zaman Belanda, Masjid Baitul Amien Jember Punya Arsitektur Unik dan Sarat Makna, Dulu Dibangun dari Botol dan Gabah Sumbangan Warga
Berburu Sate Madura Legendaris di Jember, Ini Rekomendasi 5 Warung Paling Laris dengan Cita Rasa Otentik dan Harga Bersahabat
Niat Banget! Pria Ini Bawa Peralatan Profesional untuk Live Streaming di Alun-alun Jember, Netizen: Jangan Live di Trotoar
Kebut Aktivasi Bandara Notohadinegoro! Bupati Jember Gus Fawait: Angkasa Pura dan PTPN Sudah Temukan Kesepakatan
Bakal Bergelimang Kekayaan! Jember Punya 5 Sumber Daya Alam yang Bisa Menjadi Harta Karun Bagi Para Warga, Ternyata Menjadi Surganya Emas Berkilauan?