Kamis, 4 Juni 2026

Antara Kentongan, Mantra, dan Sayap Merpati: Kisah Budi Prasetyo Menjaga Tradisi Getakan dari Desa Ajung Kalisat

Photo Author
Qorry 'Aina Damayanti, Sketsa Nusantara
- Minggu, 20 April 2025 | 14:27 WIB
Sosok Budi Prasetyo di pajudun membawa merpati getakan kesayangannya  (SketsaNusantara.id/ Qorry 'Aina Damayanti )
Sosok Budi Prasetyo di pajudun membawa merpati getakan kesayangannya (SketsaNusantara.id/ Qorry 'Aina Damayanti )

SketsaNusantara.id — Di sebuah sudut Desa Ajung, Kecamatan Kalisat, aroma pagi kerap bersanding dengan deru kepakan sayap merpati.

Di sana, Budi Prasetyo berdiri tenang, tangan kanannya menabur jagung pipil, tangan kirinya mengelus pelan merpati yang baru saja mendarat.

Pemandangan ini adalah rutinitas yang tak pernah absen dalam hidupnya. Seperti lagu lama yang tak lekang oleh waktu, kisahnya dengan merpati getakan adalah cerita cinta yang bertahan puluhan tahun.

Baca Juga: Dulunya Nadi Ekonomi Jember, Kini Hanya Tinggal Kenangan! Kisah Jalur Kereta Api Rambipuji-Puger yang Terbengkalai dan Mati Tergerus Zaman

Budi bukan sekadar penghobi. Ia adalah penjaga tradisi. Sejak usia belia, kelas lima sekolah dasar, ia telah terpikat oleh keindahan burung yang tak terlalu mahal itu.

Dulu, ibunya yang memperkenalkan dunia ini, sosok perempuan yang telaten merawat puluhan merpati dengan cinta. Dari sana, benih kecintaan itu tumbuh. Bukan hanya sekadar merawat, tapi memahami jiwa yang menghidupi tradisi di balik bulu-bulu merpati yang sederhana.

Kini, di usianya yang ke-40, Budi tak hanya memelihara 26 merpati getakan, tetapi juga menjadi seniman di balik setiap aspek kehidupannya.

Baca Juga: Viral Wisata Gunung Watangan Jember! Hidden Gem di Tangga Langit yang Memacu Adrenalin, Cocok untuk Healing dengan Pesona Pemandangan Sunset Memukau

Ia merancang sendiri pajudun, rumah bagi merpati, dengan tangan telaten. Ia membuat “mata keteran” dari anyaman bambu, elemen khas yang konon menginspirasi gaya arsitektur rumah di Jember tempo dulu.

Ketika tangannya menari di atas bambu, tampak jelas bahwa cinta itu bukan basa-basi. Setiap detail dibuat dengan kesungguhan, seperti ritual sakral yang diwariskan turun-temurun.

Tapi keunikan terbesar dari hobi ini bukan terletak pada kandang atau jenis burungnya. Budi menuturkan, merpati getakan punya seni yang hanya bisa dipahami oleh mereka yang tekun menjalani. Salah satunya, adalah ritual malam. Di saat banyak orang terlelap, Budi memilih untuk tetap terjaga.

Baca Juga: Pura-Pura Jadi Korban, Viral di Media Sosial Perempuan di Jember Ini Rekayasa Kejadian Pembegalan

Ia memusatkan pikirannya pada satu tujuan, menarik merpati lawan masuk ke pajudunnya. Bukan dengan jebakan atau umpan. Tapi lewat mantra yang diyakini akan bekerja bila dijalankan dengan fokus penuh.

“Kalau berhasil, kentongan dibunyikan. Itu tandanya merpati sudah masuk,” ujar Budi dalam kesempatan wawancaranya bersama Tim SketsaNusantara.id.

Halaman:

Editor: Siti Nurlaela Hanifah

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Refleksi Hardiknas 2026: Pendidikan dan Buku

Jumat, 1 Mei 2026 | 16:35 WIB

Menimbang Dampak AI pada Nalar Generasi Bangsa

Kamis, 30 April 2026 | 12:05 WIB

Guru Pejuang Literasi

Selasa, 7 April 2026 | 10:35 WIB

Ketika Inklusi Berubah Menjadi Eksploitasi

Selasa, 24 Maret 2026 | 14:35 WIB

Idul Fitri dan Momentum Transformasi Digital UMKM

Kamis, 19 Maret 2026 | 13:30 WIB

Gus Dur, Cina dan Islam

Kamis, 19 Februari 2026 | 21:25 WIB

Kiprah Kiai Kampung Memajukan Nusantara

Kamis, 5 Februari 2026 | 17:35 WIB

Kebijakan Kuota Haji: Adakah Pelanggarannya?

Senin, 26 Januari 2026 | 09:14 WIB
X