SketsaNusantara.id — Di sebuah sudut Desa Ajung, Kecamatan Kalisat, aroma pagi kerap bersanding dengan deru kepakan sayap merpati.
Di sana, Budi Prasetyo berdiri tenang, tangan kanannya menabur jagung pipil, tangan kirinya mengelus pelan merpati yang baru saja mendarat.
Pemandangan ini adalah rutinitas yang tak pernah absen dalam hidupnya. Seperti lagu lama yang tak lekang oleh waktu, kisahnya dengan merpati getakan adalah cerita cinta yang bertahan puluhan tahun.
Budi bukan sekadar penghobi. Ia adalah penjaga tradisi. Sejak usia belia, kelas lima sekolah dasar, ia telah terpikat oleh keindahan burung yang tak terlalu mahal itu.
Dulu, ibunya yang memperkenalkan dunia ini, sosok perempuan yang telaten merawat puluhan merpati dengan cinta. Dari sana, benih kecintaan itu tumbuh. Bukan hanya sekadar merawat, tapi memahami jiwa yang menghidupi tradisi di balik bulu-bulu merpati yang sederhana.
Kini, di usianya yang ke-40, Budi tak hanya memelihara 26 merpati getakan, tetapi juga menjadi seniman di balik setiap aspek kehidupannya.
Ia merancang sendiri pajudun, rumah bagi merpati, dengan tangan telaten. Ia membuat “mata keteran” dari anyaman bambu, elemen khas yang konon menginspirasi gaya arsitektur rumah di Jember tempo dulu.
Ketika tangannya menari di atas bambu, tampak jelas bahwa cinta itu bukan basa-basi. Setiap detail dibuat dengan kesungguhan, seperti ritual sakral yang diwariskan turun-temurun.
Tapi keunikan terbesar dari hobi ini bukan terletak pada kandang atau jenis burungnya. Budi menuturkan, merpati getakan punya seni yang hanya bisa dipahami oleh mereka yang tekun menjalani. Salah satunya, adalah ritual malam. Di saat banyak orang terlelap, Budi memilih untuk tetap terjaga.
Baca Juga: Pura-Pura Jadi Korban, Viral di Media Sosial Perempuan di Jember Ini Rekayasa Kejadian Pembegalan
Ia memusatkan pikirannya pada satu tujuan, menarik merpati lawan masuk ke pajudunnya. Bukan dengan jebakan atau umpan. Tapi lewat mantra yang diyakini akan bekerja bila dijalankan dengan fokus penuh.
“Kalau berhasil, kentongan dibunyikan. Itu tandanya merpati sudah masuk,” ujar Budi dalam kesempatan wawancaranya bersama Tim SketsaNusantara.id.
Artikel Terkait
Berdiri Sejak Zaman Belanda, Masjid Baitul Amien Jember Punya Arsitektur Unik dan Sarat Makna, Dulu Dibangun dari Botol dan Gabah Sumbangan Warga
Berburu Sate Madura Legendaris di Jember, Ini Rekomendasi 5 Warung Paling Laris dengan Cita Rasa Otentik dan Harga Bersahabat
Niat Banget! Pria Ini Bawa Peralatan Profesional untuk Live Streaming di Alun-alun Jember, Netizen: Jangan Live di Trotoar
Kebut Aktivasi Bandara Notohadinegoro! Bupati Jember Gus Fawait: Angkasa Pura dan PTPN Sudah Temukan Kesepakatan
Bakal Bergelimang Kekayaan! Jember Punya 5 Sumber Daya Alam yang Bisa Menjadi Harta Karun Bagi Para Warga, Ternyata Menjadi Surganya Emas Berkilauan?