Minggu, 19 Juli 2026

Tragedi Sukatani: Ketika Band Punk Minta Maaf kepada Polisi yang Baik Hati

Photo Author
Boy Nugroho, Sketsa Nusantara
- Jumat, 21 Februari 2025 | 07:00 WIB
Klaridikasi band Sukatani. Ada dugaan pembungkaman terhadap praktik berkesenian. (Instagram/sukatani.band)
Klaridikasi band Sukatani. Ada dugaan pembungkaman terhadap praktik berkesenian. (Instagram/sukatani.band)

Ya, sebenarnya tidak salah juga dengan pernyataan (atau pertanyaan) tersebut. Kalimat semacam itu biasanya terlahir dari serangkaian penafsiran mengenai "Punk yang bukan sekadar musik, tetapi ideologi".

Silakan cek sendiri di mesin pencari, ada bejibun definisi dan teori yang mendefinisikan tentang "Punk". Mulai dari Punk sebagai etos hidup yang dibangun dan sistem kepercayaan untuk non-konformitas, anti-otoritas, anti-korporatisme, anti-konsumerisme, hingga bahkan upaya-upaya gigih agar tidak "selling-out".

Baca Juga: Siapa Band Sukatani? Profil 2 Musisi yang Tengah Viral, Ciptakan Lagu dengan Gaya Kontroversial Sampai Dilarang Beredar di Tanah Air

Tak heran jika image sebuah band Punk rata-rata stereotipikal; musik tempo kencang, progresi 3 kord, suara vokal/teriakan yang tak jelas didengar, dan lirik bernada perlawanan.

Ada juga yang berpendapat bahwa Punk itu ya di jalanan, secara harfiah. Mereka dianggap semacam jembel atau gelandangan yang bertahan hidup berkeliaran di jalanan liar dengan cara apapun; live for today. Persis seperti gambaran dalam video musik Jesus of Suburbia yang dibawakan oleh sebuah band "so-called Punk" bernama Green Day.

Di luar semua ciri-ciri tersebut bukanlah Punk. Betul, ada lho yang berpikiran naif semacam itu, dan tak perlu dikasihani karena biar mereka belajar sendiri dari internet.

Justru dari segala ketidakjelasan perihal definisi dan tidak penting juga untuk mendefinisikannya, "Punk" menjadi yang diketahui (bukan dipahami) orang awam.

Oke, mungkin saja setiap orang berhak mendefinsikan "Punk" sebagai musik atau ideologi. Meskipun pada dasarnya, kedua hal itu mustahil dipisahkan jika bicara soal "Punk".

Ada sebuah kutipan cukup populer yang lumayan bisa diterima perihal definisi "Punk". Intinya, "Punk" adalah sebuah seni untuk menjadi menyebalkan, terutama di hadapan otoritas yang punya kontrol ketat dan cenderung represif jika menyangkut standar norma, etika, dan bahkan sikap politik.

Tahun 1982, Calvin Johnson, Heather Lewis, dan Bret Lunsford membentuk sebuah band bernama Beat Happening di Washington, Amerika Serikat.

Mereka bukanlah sebuah band yang secara bentuk musikal dikenali kebanyakan orang sebagai Punk. Justru, Beat Happening merupakan band indie pop dan pelopor musik lo-fi yang cenderung minimalis, seringkali cuma terdengar sebagai komposisi hentakan drum pelan, petikan gitar 1 kord, dan suara malas-malasan si vokalis yang lebih mirip gerutuan seorang redaktur di pagi hari saat menyadari banyak penulisnya yang telat kirim artikel.

Di masa awal kehadiran Beat Happening di sebuah panggung, gaya musik dan penampilan mereka ternyata tidak disukai sebagian penonton. Bahkan, ada yang sampai melemparkan asbak dan mencemooh band ini.

Namun, mereka tetap melanjutkan aksi di panggung hingga selesai. Itulah momen bersejarah yang dicatat oleh Michael Azzerad dalam buku legendarisnya, Our Band Could Be Your Life: Scenes from the American Indie Underground, 1981–1991.

Michael memuji mereka sebagai band yang berhasil memperluas gagasan dan dimensi tentang "Punk", yang mulanya sangat maskulin dengan setelan jaket kulit dan rambut mohawk.

Beat Happening telah menginspirasi serangkaian gerakan musik Punk yang tidak lagi menonjolkan sisi maskulinitas, mulai dari band Bratmobile hingga Bikini Kill.

Halaman:

Editor: Siti Nurlaela Hanifah

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Jangan Biarkan Kota Santri Kehilangan Jati Diri

Jumat, 26 Juni 2026 | 09:40 WIB

Sistem Keulamaan dan Ahwa Permanen dalam NU

Selasa, 16 Juni 2026 | 16:49 WIB

Refleksi Hardiknas 2026: Pendidikan dan Buku

Jumat, 1 Mei 2026 | 16:35 WIB

Menimbang Dampak AI pada Nalar Generasi Bangsa

Kamis, 30 April 2026 | 12:05 WIB

Guru Pejuang Literasi

Selasa, 7 April 2026 | 10:35 WIB

Ketika Inklusi Berubah Menjadi Eksploitasi

Selasa, 24 Maret 2026 | 14:35 WIB

Idul Fitri dan Momentum Transformasi Digital UMKM

Kamis, 19 Maret 2026 | 13:30 WIB

Gus Dur, Cina dan Islam

Kamis, 19 Februari 2026 | 21:25 WIB
X