Tentu disadari pula bahwa pemerintah sudah melakukan berbagai terobosan dan inovasi dalam menyediakan lapangan kerja. Terutama bagi generasi muda Indonesia. Itu harus dilakukan secara berkelanjutan. Tidak mudah membalikkan keadaan melalui tongkat Nabi Musa as.
Kompetensi dan Advertasi
Sisi mutu internal calon pencari kerja, termasuk dari generasi muda, berawal dari kompetensi mumpuni yang dimiliki. Proses mewujud ini dimulai dari tahapan pada jenjang perkuliahan yang berhasil menyiapkan para profesional di bidangnya. Tidak sekedar belajar tumpukan teori di bangku kuliah.
Generasi muda, sebagai nilai lebihnya, juga harus memiliki daya berjuang yang tidak mengenal putus asa dalam menghadapi rintangan. Istilah yang populer digunakan adalah Adversity Quotient (AQ). Dia dikenal sebagai ilmu ketahanan.
Kondisi ini disebabkan karena Intelligence Quotient (IQ), Emotional Quotient (EQ) dan Spiritual Quotient (SQ), belum mampu menjawab tantangan zaman. Di era modern yang serba digital, justru AQ akan berbicara banyak dalam menentukan keberhasilan generasi muda Indonesia dalam meraih masa depannya.
Kecerdasan keempat ini merupakan kemampuan seseorang untuk tetap tenang, berfokus dan berkinerja baik dalam menghadapi situasi yang penuh kesulitan. AQ ini adalah suatu kecerdasan yang dimiliki oleh manusia ketika menghadapi rintangan. Dia adalah kemampuan seseorang untuk bertahan dan bangkit dari kesulitan.
Dia menjadi representasi dari seseorang untuk menghadapi tantangan dan melewati masa sulit dalam hidup dan keluar dari situ tanpa kehilangan akal sehat. Ketika dihadapkan pada masalah, AQ menentukan siapa yang akan menyerah, siapa yang akan meninggalkan keluarganya, bagaimana cara seseorang menghadapinya.
Menurut Paul G Stoltz (1997), AQ merupakan skor yang mengukur kemampuan seseorang dalam menghadapi kesulitan hidup. Dia adalah salah satu indikator kemungkinan keberhasilan seseorang dalam hidup. AQ sangat berguna untuk memprediksi sikap, stres mental, ketekunan, umur panjang, pembelajaran dan respon terhadap perubahan lingkungan.
Seseorang yang memiliki AQ tinggi, dia akan menunjukkan beberapa indikator. Misalnya ulet, optimis, berani, kreatif, mampu beradaptasi, cerdas secara emosional dan mampu mengubah kesulitan menjadi peluang. Termasuk di dalamnya adalah sikap memiliki penghargaan diri dan motivasi diri.
Stoltz juga menambahkan bahwa AQ sangat dipengaruhi oleh beberapa hal. Di antaranya adalah pengalaman hidup, dukungan sosial, sikap mental positif, pembelajaran dan pengembangan pribadi. Kesemuanya itu membutuhkan pengalaman riil dalam kehidupan nyata.
Berkaca kepada eksplorasi teori Stoltz, generasi muda Indonesia sudah waktunya memperkuat AQ yang dimiliki. Ini dilakukan karena ke depan tantangan dari bonus demografi akan terus menyapa. Tentu kecanggihan teknologi tidak akan pernah mampu membentuk AQ dalam diri anak muda modern.
#KaburAjaDulu bukan solusi cerdas dalam berkompetisi di bumi pertiwi. Kompetensi dan advertasi dua hal yang harus dikuasai dalam menghadapi semua tantangan era modern. Dan, itu semua harus dihadapi untuk diubah menjadi peluang. Bukan sebaliknya malah kabur ke negara lain.***
Artikel Terkait
Sempat Trending Tagar Kabur Aja Dulu Oleh Anak Muda Buntut Warna-Warni Isu di Indonesia, Bahlil Lahadalia Beri Pesan Menohok, Netizen: yang Korupsi?
Tagar 'Kabur Aja Dulu' Viral di Medsos, Jejak Digital Prabowo Kembali Mencuat! Apa Hubungannya? Netizen: Diajarin Bapaknya
Beda Kelas dengan Bahlil, Anies Baswedan Tanggapi Soal 'Kabur Aja Dulu' yang Dikaitkan dengan Nasionalisme: Ini Seperti Cinta Bertepuk Sebelah Tangan
Mahfud MD Tanggapi Tagar Kabur Aja Dulu, Singgung Soal Lunturnya Rasa Cinta Tanah Air
Dikawatirkan Akan Menjadi Publik Distrust, Ini Pandangan Psikolog Imam Prasodjo Terkait Fenomena Tagar 'Kabur Aja Dulu'