Minggu, 19 Juli 2026

#KaburAjaDulu dan Keputusasaan Generasi Muda?

Photo Author
Tim Redaksi Sketsa Nusantara, Sketsa Nusantara
- Kamis, 20 Februari 2025 | 20:33 WIB

*Mukani

SketsaNusantara.id - Beberapa hari ini #KaburAjaDulu menjadi trending topic paling viral di media sosial.

Ada kekhawatiran ini adalah fenomena makin menurunnya rasa nasionalisme di kalangan anak muda Indonesia. Sehingga mereka lebih tertarik berkarir ke luar negeri.

Tapi kondisi riil di lapangan menunjukkan sisi negatif dari bonus demografi di Indonesia. Limpahan usia muda produktif belum diimbangi dengan penyediaan lapangan kerja yang seimbang. Meski pemerintah sudah mengantisipasi berbagai dampak dari bonus demografi ini.

Baca Juga: Kocak! Sebut Ada Teman yang Kontrol Dirinya, Bunda Corla Bagi Rahasia Tak Bicara Ngalor Ngidul Bahas Hastag Kabur Aja Dulu

Kritik-Konstruktif

Dalam sebuah sesi dialog di televisi nasional Kompas, Selasa 18 Februari 2025, menghadirkan Wakil Menteri Tenaga Kerja RI Immanuel Ebenezer (Noel) dan Ainun Najib. Nama terakhir ini adalah WNI yang sudah 20 tahun lebih bekerja di Singapura. Sejak masih mahasiswa hingga sekarang sudah berkeluarga.

Diakui, bahwa awal mula tagar #KaburAjaDulu diinisiasi Najib dan beberapa rekannya. Tujuannya memberikan kritik sosial terhadap berbagai fenomena yang dihadapi generasi muda. Terutama setelah lulus kuliah dan belum mendapatkan pekerjaan yang diinginkan.

Di satu sisi, di luar negeri terbentang luas berbagai pekerjaan yang mengakomodasi kompetensi yang dimiliki generasi muda. Tentu dengan gaji yang lebih banyak dari Indonesia. Meski di luar negeri sana pajak yang harus dibayar juga lebih tinggi.

Baca Juga: Tanggapi Tagar Kabur Aja Dulu, Bunda Corla Dianggap Jauh Lebih Cerdas dari Para Menteri Prabowo Gibran

Itu belum ditambah dengan problem tradisi dan sosiologi yang tidak sama dengan di Indonesia. Generasi muda Indonesia yang hendak mencari pengalaman ke luar negeri tentu harus berpikir ulang. Mempersiapkan diri sebaik mungkin, sebelum benar-benar mewujudkan mimpi keluar negeri.

Diakui, biaya kuliah di Indonesia juga masih lebih tinggi dari negara-negara Asia Tenggara. Belum lagi ditambah kesempatan memperoleh kerja yang layak juga masih sempit. Itupun di Indonesia masih dibatasi dengan usia minimal bekerja dan jangka waktu pensiun. Disinyalir berbagai kondisi ini mendorong banyak generasi mendukung #KaburAjaDulu ini.

Perspektif ini diapresiasi oleh Noel selaku wakil pemerintah. Apa yang diinisiasi Najib dan rekan-rekannya sebagai bentuk kritik konstruktif. Berbagai permasalahan yang disampaikan tentu akan dibahas bareng untuk menemukan titik solusinya. Terutama berbagai harapan generasi muda Indonesia yang mendorong mereka mendukung #KaburAjaDulu.

Baca Juga: Tagar Kabur Aja Dulu Viral jadi Tren, Bunda Corla Vokal Sentil Wamenaker Terkait Syarat Kerja Tak Masuk Akal: Nggak Wajar, Mau Ngapain?

Halaman:

Editor: Zuhana Anibuddin Zuhro

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Jangan Biarkan Kota Santri Kehilangan Jati Diri

Jumat, 26 Juni 2026 | 09:40 WIB

Sistem Keulamaan dan Ahwa Permanen dalam NU

Selasa, 16 Juni 2026 | 16:49 WIB

Refleksi Hardiknas 2026: Pendidikan dan Buku

Jumat, 1 Mei 2026 | 16:35 WIB

Menimbang Dampak AI pada Nalar Generasi Bangsa

Kamis, 30 April 2026 | 12:05 WIB

Guru Pejuang Literasi

Selasa, 7 April 2026 | 10:35 WIB

Ketika Inklusi Berubah Menjadi Eksploitasi

Selasa, 24 Maret 2026 | 14:35 WIB

Idul Fitri dan Momentum Transformasi Digital UMKM

Kamis, 19 Maret 2026 | 13:30 WIB

Gus Dur, Cina dan Islam

Kamis, 19 Februari 2026 | 21:25 WIB
X