Untuk itu, Sunan Bonang tidak membawa Raden Syahid ke mesjid atau surau namun justru membawanya ke tepi sungai, yang akan menjadi saksi perjalanan spiritual Raden Syahid yang baru saja di mulai.
Sunan Bonang menancapkan tongkatnya di pinggir sungai lalu berpesan kepada Raden Syahid agar ia duduk menunggunya disini hingga ia kembali.
Rupanya hal itu dipatuhi oleh Raden Syahid, dengan tenang ia menghadap sungai dan tongkat yang tertancap meski tak tahu kapan itu akan berlalu.
Sebagai orang yang cerdas, ia juga menanyakan kepada Sunan Bonang apa yang harus dilakukannya tatkala sedang menunggu kedatangan kembali Sunan Bonang.
Dengan suara penuh kesabaran Sunan Bonang berpesan agar Raden Syahid bersabar karena kebenaran akan terbuka bagi mereka yang sabar dan memiliki hati yang terbuka. Untuk itu Sunan Bonang berpesan agar ia belajar apa yang diberikan alam kepadanya.
"Kebenaran akan datang kepada mereka yang sabar dan hati yang terbuka, jadi tunggulah dengan kesabaran dan pelajarilah apa yang diberikan alam kepadamu. Waktu akan menjadi gurumu dan alam akan menjadi sahabatmu dalam kesendirian," ujar Sunan Bonang.
"Dalam kesendirian dan kesederhanaan kau akan mendapatkan jawaban yang kau cari," lanjutnya.
Perintah itu bukan tanpa maksud, namun Sunan Bonang paham bahwa untuk memasuki dunia spiritual maka Raden Syahid harus mengosongkan diri dari segala prasangka dan ego.
Hal itu dilakukan Sunan Bonang untuk membangun pondasi yang kuat dalam diri Raden Syahid tentang keberadaan dan koneksi yang kuat dengan penciptanya.
Dalam pandangan makrifat Sunan Bonang, kesendirian seseorang yang sedang menunggu tanpa kepastian adalah tentang memahami diri sendiri, mempelajari kesabaran dan mendekatkan diri kepada Allah.
Untuk itu Sunan Bonang berpesan ketika ia tak ada, Raden Syahid harus merenung bagaimana alam bekerja, merenungkan bagaimana kehidupan bermula dan menemukan kebenaran sesungguhnya dalam kesendirian.
Penemuan diri Sunan Kalijaga
Rupanya apa yang dipesankan oleh Sunan Bonang benar-benar didikuti oleh Raden Syahid. Ia duduk tenang dengan tongkat yang menancap serta merenungkan alam yang sunyi di sekitarnya.
Ia mulai menyadari bahwa dalam kesunyian dan kesederhanaan terdapat pelajaran yang berharga tentang kehidupan yang belum pernah ditemuinya.
Artikel Terkait
Misteri Usia Sunan Kalijaga Hingga Dimakamkan di Demak, Wali Songo yang Hidup di 4 Masa Kerajaan Nusantara
Mau ke Makam Sunan Muria di Kudus? Nikmati Sensasi Naik Ojek Ala Valentino Rossi, Wisata Religi Plus Uji Nyali!
Peninggalan Sunan Kalijaga: Wayang Kulit Sebagai Warisan Budaya Keilmuan Abadi dan Kisah Seorang Wali yang Pernah Jadi Perampok
Terkenal Sebagai Kamus Lokal Berjalan Penguasa 99 Bahasa, Inilah 5 Karomah Strategi Dakwah ala Sunan Gunung Jati yang Melegenda di Nusantara
Kisah Wali Songo: Kesaktian Sunan Bonang Taklukkan Brahmana Sakyakirti dari India pada Agama Islam
Awal Mula Sunan Kalijaga Berjalan dari Demak ke Selatan Membuka Mataram Islam, Ada Ancaman Kehancuran Peradaban Nusantara
Sembuhkan Penyakit Tanpa Fasilitas Kedokteran, 5 Kesaktian Sunan Gunung Jati Memang Gak Ada Lawan, Apa Saja?
Kisah Sunan Ampel: Mengulik Asal Usul Kedatangan dan Gerakan Dakwah Kreatif dalam Sejarah Perkembangan Islam Nusantara, Bapak Para Wali?