Sabtu, 6 Juni 2026

Ratusan Perangkat Desa Geruduk Kantor Camat Selogiri dan Desak Mundur, Bermula dari Insiden Push Up Saat Upacara hingga Dugaan Sikap Arogan

Photo Author
Zuhana Anibuddin Zuhro, Sketsa Nusantara
- Sabtu, 6 Juni 2026 | 07:00 WIB
Ilustrasi demo di Selogiri, Wonogiri, Jawa Tengah. (Freepik)
Ilustrasi demo di Selogiri, Wonogiri, Jawa Tengah. (Freepik)

SketsaNusantara.id - Sebuah video yang memperlihatkan aksi ratusan perangkat desa mendatangi Kantor Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, ramai menjadi perhatian publik di media sosial. Aksi tersebut berlangsung pada Jumat, 5 Juni 2026.

Kedatangan para perangkat desa itu bukan tanpa alasan. Mereka menyampaikan desakan agar Camat Selogiri, Fredy Sasono, mengundurkan diri dari jabatannya.

Peristiwa ini kemudian memunculkan berbagai pembahasan di ruang publik.

Baca Juga: Ratusan Karyawan Alfamart Demo ke Kantor Bupati Lombok Tengah, Khawatir Kehilangan Nafkah dan Tempat Tinggal

Sejumlah tudingan terkait pola komunikasi dan hubungan kerja di lingkungan pemerintahan setempat turut menjadi sorotan.

Berdasarkan informasi yang beredar, para perangkat desa menilai hubungan kerja di Kecamatan Selogiri tidak berjalan harmonis. Mereka menuding terdapat sikap yang dianggap arogan dan memicu ketidaknyamanan dalam menjalankan tugas pemerintahan.

Salah satu peristiwa yang disebut menjadi pemicu polemik terjadi saat peringatan Hari Lahir Pancasila pada Senin, 1 Juni 2026. Saat itu, sejumlah perangkat desa mendapat tugas sebagai petugas upacara, termasuk tim pengibar bendera.

Baca Juga: Serba-Serbi Demo Mahasiswa dalam Peringatan Hardiknas 2026, BEM SI Berikan 'Kartu Kuning' untuk Kemdiktisaintek, Soroti Gelapnya Pendidikan Indonesia

Dalam prosesi tersebut, sempat terjadi insiden ketika bendera terlihat terlipat. Namun, kondisi itu disebut langsung diperbaiki oleh petugas yang bertugas di lapangan.

Meski demikian, kejadian tersebut masih menjadi perhatian setelah muncul laporan mengenai tindakan yang dilakukan usai insiden berlangsung. Dalam unggahan yang beredar di media sosial, disebutkan terdapat permintaan kepada petugas yang bertanggung jawab untuk melakukan push up sebelum upacara berakhir.

"Namun sebelum upacara selesai, Camat meminta petugas yang bertanggung jawab untuk push up," tulis unggahan yang beredar.

Perangkat desa yang menyampaikan keberatan menilai tindakan tersebut dapat menimbulkan rasa malu bagi petugas karena dilakukan di hadapan peserta upacara lainnya.

Selain persoalan upacara, muncul pula sejumlah keluhan lain yang berkaitan dengan komunikasi dalam forum resmi pemerintahan. Dalam unggahan yang sama disebutkan bahwa terdapat penggunaan kata-kata yang dianggap tidak pantas ketika kegiatan resmi berlangsung.

Keluhan juga muncul saat pembahasan mengenai penggunaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa atau APBDes. Dalam forum tersebut, disebutkan adanya perangkat desa yang diminta melakukan pemaparan tanpa mempertimbangkan kesiapan materi yang dikuasai.

Halaman:

Editor: Zuhana Anibuddin Zuhro

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X