Sabtu, 18 Juli 2026

Praktik ‘Serakahnomic’ di Sektor Pangan: Penggilingan Kecil Tumbang, Beras Premium Dimanipulasi, dan Subsidi Rakyat Dinikmati Pemain Besar

Photo Author
Boy Nugroho, Sketsa Nusantara
- Sabtu, 15 November 2025 | 18:30 WIB
Ilustrasi beras. (Pexels/EDRIS IBRAHEEM)
Ilustrasi beras. (Pexels/EDRIS IBRAHEEM)

SketsaNusantara.id - Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengungkap praktik bisnis para pemain besar yang disebut Presiden sebagai ‘Serakahnomic’.

Pengungkapan itu muncul dalam tayangan YouTube Akbar Uncensored pada 14 November 2025.

Istilah tersebut menjelaskan pola lama di sektor pangan yang menekan pelaku kecil. Fenomena ini juga dianggap memengaruhi kualitas beras yang sampai ke masyarakat.

Baca Juga: 6 Kuliner Tradisional Khas Indonesia yang Terbuat dari Beras Ketan, Cita Rasa Autentik Nusantara, Manis Legit hingga Gurih

Praktik yang disampaikan Amran memotret situasi persaingan yang tidak seimbang. Penggilingan kecil disebut tidak mampu bertahan karena pasokan gabah terserap oleh pemain besar.

Kondisi tersebut menciptakan kesenjangan yang semakin meluas. Amran menilai struktur pasar yang timpang membuat pelaku kecil kehilangan akses bahan baku.

Ia menjelaskan bahwa pelaku besar membeli Gabah Kering Panen sedikit lebih tinggi dari harga pasar. Selisih kecil itu disebut cukup untuk mengalihkan seluruh suplai ke kelompok tertentu. Dalam pernyataannya, ia memberi contoh pola permainan harga tersebut.

Baca Juga: Saat Pemerintah Hancurkan Hutan sebagai Lumbung Pangan, Menteri Dalam Negeri Ajak Masyarakat untuk Beralih dari Beras ke Pangan Lokal

"Kalau ini beli 6.000, ini beli 6.500. Kalau ini beli 7.000, ini beli 7.500. Enggak akan kebagian. Inilah strategi mementingkan si kecil. Inilah Serakonomik. Clear, kan? Clear,” ujar Amran.

Ia menilai cara tersebut sudah berlangsung lama. Namun, menurutnya momentum pengungkapan baru tercipta sekarang. Amran menyebut pola itu akhirnya dipetakan agar kebijakan negara dapat diarahkan kepada kelompok yang terdampak.

"Ini adalah lama, sudah lama yang tumbuh di Indonesia. Tetapi mungkin baru saatnya hari ini kita membongkar dan berpihak pada rakyat kecil," ucapnya.

Selain soal harga gabah, Amran juga menguraikan temuan mengenai manipulasi kualitas beras. Ia menyebut adanya produk yang dijual sebagai beras premium, tetapi memiliki tingkat patahan mencapai 59 persen.

Tingkat patahan ini jauh di atas standar premium yang berada di kisaran 14 persen. Penjelasan itu menunjukkan bagaimana kualitas beras dapat dipengaruhi oleh struktur pasar yang tidak sehat.

Amran menggambarkan temuan itu sebagai contoh praktik yang masuk dalam kategori ‘Serakahnomic’. Ia menjelaskan bahwa masyarakat menerima beras dengan standar tidak sesuai labelnya.

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Sumber: YouTube Akbar Faizal Uncensored

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

X