Pada 16 Mei 1956, Soekarno berkunjung ke Gedung Putih, namun Presiden Dwight D. Eisenhower memilih sikap netral.
Namun, pertemuan dengan Uni Soviet pada 28 Agustus 1956 menghasilkan dukungan besar, termasuk pengiriman alutsista.
Menjelang akhir 1961, ketegangan meningkat. Belanda, dalam usaha mempertahankan Irian Barat, memproklamirkan Papua Barat sebagai negara merdeka dengan simbol bintang kejora.
Soekarno, tak terima dengan tindakan ini, mengaktifkan Dewan Pertahanan Keamanan Nasional dan merumuskan Operasi Trikora.
Pidato Soekarno di Yogyakarta adalah sinyal bagi seluruh rakyat untuk bersiap menghadapi mobilisasi umum.
Operasi Trikora dimulai dengan pembentukan Komando Mandala di bawah pimpinan Mayor Jenderal Soeharto.
Pasukan Indonesia, yang terdiri dari 13.000 tentara dan ribuan pasukan udara serta laut, bersiap menghadapi Belanda.
Konflik ini melibatkan pertempuran besar, seperti Pertempuran Laut Aru, dan aksi militer intensif yang direncanakan dengan cermat.
Pada bulan Maret 1962, pasukan Indonesia memulai serangan besar-besaran, sementara Belanda mempertahankan bentengnya dengan kekuatan signifikan.
Konfrontasi yang sudah mendekati titik puncaknya ini menunjukkan bahwa Indonesia siap bertindak tegas untuk merebut kembali Irian Barat.
Memantapkan tekad Soekarno dan seluruh rakyat Indonesia dalam perjuangan melawan penjajahan.
Dengan dukungan dari Uni Soviet dan berbagai strategi militer yang dicanangkan, Indonesia bergerak menuju penyelesaian konflik dengan Belanda, mengubah sejarah dan nasib wilayah Papua Barat.***