Bertambahnya tahun, jumlah santri terus bertambah dan KH Khotib pun terus bersabar memberikan ilmu agama.
3) Bangunan Awal Pondok
Di tahun 1937, KH Khotib Abdul Karim bersama para santrinya mendirikan gubuk yang terbuat dari bambu di depan masjid Al Faqih.
Bangunan awal yang hanya berupa gubuk itu merupakan cikal bakal pondok pesantren Salafiyyah Curahkates, Jember.
Dengan cara sederhana dan kehidupan yang dijalani apa adanya, santri sang kiai bertambah hingga menjadi ribuan.
Sampai akhirnya dibangunlah asrama santri dan gubuk cikal bakal ponpes tersebut saat ini telah menjadi gedung madrasah.
4) Pernah Mau Diserbu PKI
Punya ribuan santri dan ramai yang menimba ilmu agama, di tahun-tahun kemerdekaan, Pondok Pesantren Salafiyyah pernah mau diserbu PKI (Partai Komunis Indonesia).
Saat itu, sekitar tahun 1950-an, terdengar kabar jika pasukan PKI akan menyerang ponpes.
Namun, KH Khotib Abdul Karim sudah mengetahuinya. Hal yang mencengangkan yaitu tak tahu apa yang dilakukan sang kiai hingga bisa membuat pasukan PKI kesasar saat hendak menyerang pondok.
5) Pemberian Nama Ponpes
Awalnya, pondok pesantren yang diasuh oleh KH Khotib Abdul Karim belum memiliki nama, masyarakat hanya menyebutnya pondok Curahkates.