Keberhasilan Ahmad Yani menyebabkan ia dipromosikan ke wakil kepala Angkatan Darat ke-2 staf pada 1 September 1962.
Kemudian ia diangkat menjadi Kepala Angkatan Darat pada 28 Juni 1962.
Sebutan Kepala Angkatan Darat kemudian berubah menjadti Menteri/Panglima.
Jenderal Ahmad Yani wafat di Jakarta pada 1 Oktober 1965.
Dalam sejarah, disebut Ahmad Yani selalu memiliki perbedaan pandangan dengan Partai Komunis Indonesia (PKI).
Hal ini membuat PKI menjadikan Ahmad Yani sebagai salah satu target dari 7 petinggi TNI AD untuk diculik dalam peristiwa Pemberontakan G30S/PKI.
Para penculik datang ke rumah Yani mengatakan akan membawa Ahmad Yani ke hadapan presiden, Ahmad Yani meminta waktu untuk mandi dan berganti pakaian.
Namun permintaan tersebut ditolak, Ahmad Yani kemudian marah hingga menampar salah satu penculik dan berusaha menutup pintu rumahnya.
Salah seorang penculik kemudian membabi buta dengan melemparkan sejumlah tembakan yang menewaskan Ahmad Yani.
Jasad Ahmad Yani dibawa ke Lubang Buaya di pinggiran Jakarta bersama dengan korban lainnya.
Semuanya korban disembunyikan dalam sebuah sumur tua, Jenazah Ahmad Yani dan para korban lainnya kemudian diangkat pada 4 Oktober.
Jenazah Ahmad Yani kemudian makamkan secara kenegaraan pada hari berikutnya di Taman Makam Pahlawan Kalibata.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini!
Artikel Terkait
Lama Tak Kelihatan, Amien Rais Kena Skak Mahfud MD Gara-Gara Jualan Isu PKI
Menguak Misteri Jalur Situbondo-Banyuwangi, Konon Penuh Aura Mistis dan jadi Saksi Bisu Pembantaian pada Masa G30S PKI
Kampung Kecil di Solo Ini Pernah jadi Tempat Persembunyian Tokoh PKI, Kisahnya Masih Lestari dan Legendaris Hingga Kini
Kenapa Disebut Pahlawan Revolusi? Pejuang Pemberontakan G30S PKI Punya Gelar Kehormatan yang Diakui Bangsa
Dramatis! Pelarian DN Aidit Pasca Peristiwa G30S PKI: Ditemukan Bersembunyi di Balik Lemari?