Kamis, 4 Juni 2026

Bagaimana Asal-usul Lapis Legit ? Mengulik Kudapan Manis Khas Indonesia yang Ternyata Pernah Jadi Hidangan Rijsttafel di Masa Kolonial

Photo Author
Sinta Dewi Utami, Sketsa Nusantara
- Selasa, 23 Juli 2024 | 09:30 WIB
Asal-usul lapis legit.  (Instagram.com/@jannahlimbong.)
Asal-usul lapis legit. (Instagram.com/@jannahlimbong.)

SketsaNusantara.id - Lapis legit adalah salah satu jenis kue basah khas Indonesia dengan cita rasa yang manis dan tekstur lembut namun kuat.

Lapis legit pertama kali dikembangkan pada masa pemerintahan kolonial Belanda di Indonesia yang terinspirasi dari kue lapis Eropa yang bernama "Spekkoek". 

Berbagai rempah-rempah yang digunakan untuk membuat kue lapis legit ini memang yang mayoritas disukai oleh orang Eropa.

Baca Juga: Makam Astana Srandil, Situs Wisata Religi Makam Islam Nusantara di Ponorogo Provinsi Jawa Timur

Rempah-rempah tersebut di antaranya ada kapulaga, kayu manis, cengkeh, bunga pala, dan adas manis sehingga menghasilkan rasa yang khas.

Bahan-bahan lainnya yang digunakan dalam pembuatan lapis legit ini di antaranya ada kuning telur, tepung terigu, gula, dan mentega.

Setelah semuanya dicampur, adonan kue yang sudah siap dipanggang dalam oven secara bertahap hingga membentuk lapisan yang biasanya berjumlah 18.

Baca Juga: Viral Meme AHY Jadi Kandidat Capres Amerika Serikat Gantikan Joe Biden, Netizen: Amerika Harus Yudhoyono

Pada umumnya, lapisan pada kue lapis legit terlihat sangat banyak jika dilihat dan hal itu membuat kue tersebut dijuluki kue seribu lapis.

Dilansir SketsaNusantara.id dari kanal Youtube @Halo Semarang TV, lapis legit sangat terkenal di Kota Semarang dan senantiasa disajikan pada hari-hari yang penting seperti Imlek, Lebaran, dan Natal.

Selain itu, kue basah ini juga hadir sebagai hadiah dalam suatu perayaan lokal seperti penikahan dan ulang tahun.

Baca Juga: Mengenal KH Bisri Syansuri, Tokoh Ulama Nusantara Pendiri NU dan Penggagas Pesantren Perempuan Pertama di Indonesia

Pada masa pendudukan Belanda dahulu, biasanya kudapan manis itu dihidangkan sebagai pencuci mulut untuk orang-orang Belanda dalam jamauan Rijsttafel.

Selanjutnya karena masuk ke Indonesia, kue manis tersebut dimodifikasi dengan memakai bahan lokal dengan rempah yang disesuaikan dengan lidah masyarakat Indonesia.

Halaman:

Editor: Wilda Wijayanti

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X