Untuk mencegah lengket, Yangko dibalur tepung ketan.
Inovasi ini diterima dengan baik oleh masyarakat. Yangko menjadi oleh-oleh khas Borobudur yang bisa meraih pendapatan hingga 30 juta Rupiah per bulan.
Saat musim liburan, produksi bisa mencapai 1000 kotak per hari.
Bahkan di luar musim liburan, mereka tetap sibuk memenuhi pesanan dari sekitar 200 reseller yang tersebar di berbagai daerah seperti Magelang, Semarang, Salatiga, Cilacap, Jawa Timur, Jawa Barat, Yogyakarta, dan Bali.
Yangko yang sudah matang tidak boleh langsung dipotong karena bisa berantakan.
Setelah didiamkan sekitar 30 menit, barulah Yangko siap dipotong.
Pembeli juga bisa memesan ukuran Yangko sesuai keinginan.
Untuk memotong Yangko besar di rumah, gunakan pemotong plastik agar tidak lengket.
Jadi, jangan ragu membeli Yangko saat berlibur di Candi Borobudur.***
Artikel Terkait
Sudah Ada Sejak Zaman Kerajaan, Cari Menu Sarapan Legend Khas Demak Wajib Coba Kuliner Ini, Bikin Nostalgia
Jadi Kesukaan Sunan Muria, Intip Kuliner Khas Kudus yang Muncul 1 Tahun Sekali, Wali Songo Ini Doyan Makan Sehat?
Mengulik Kisah Lumpia, Kuliner Peranakan yang Bertumbuh Menjadi Ikon Khas Kota Semarang
Dari Umpatan Jadi Simbol Toleransi, Kuliner Favorit Sunan Kudus Ini Punya Sejarah Unik
Senantiasa Diburu Peziarah, Inilah 'Ketupat Ketheg' Sajian Kuliner Khas Giri, Ternyata Dibuat dari Air Keruh?
Caos Dhahar Loro Gendhing Kuliner Kesukaan Sunan Kalijaga, Ternyata Makanan Ini Harus Dibuat Orang Ini…
Meski Pakai Bahasa Jawa, Wedang Ronde Bukan Kuliner Asli Indonesia Loh, Begini Asal Usulnya hingga Jadi Simbol Reuni