Kemampuan ini membantu mereka untuk bertahan dan sukses dalam berbagai posisi, termasuk dalam pemerintahan.
Pada 22 September 2022, Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan mengungkapkan bahwa ia merasa hampir mustahil menjadi presiden karena bukan orang Jawa.
"Harus tahu diri juga lah kalau kau enggak orang Jawa," ujarnya, dikutip dari kanal YouTube PinterPolitik TV.
Pengakuan ini mengundang diskusi tentang anggapan bahwa hanya orang Jawa yang dapat menjadi presiden.
Secara matematis, ada dasar di balik anggapan ini. Dari total 275,77 juta penduduk Indonesia, sekitar 154,34 juta atau 55,96 persen tinggal di Pulau Jawa.
Selain itu, 40 persen dari penduduk Indonesia adalah etnis Jawa.
Dalam sistem pemilihan berbasis suara terbanyak, hal ini membuat calon dari etnis Jawa dianggap memiliki keuntungan.
Namun, pengamat kebijakan publik dari Universitas Trisakti, Trubus Rahadiansyah, berpendapat bahwa anggapan ini merupakan hasil dari primordialisme sebagian masyarakat Jawa dan elite politik.
Fakta menunjukkan bahwa etnisitas tidak selalu berpengaruh signifikan dalam pemilihan presiden.
Pada Pilpres 2004, misalnya, Hamzah Haz yang bukan etnis Jawa tidak mendapat suara signifikan dari pemilih non-Jawa.
Hal serupa terjadi pada Pilpres 2009 dengan Jusuf Kalla.
Artikel Terkait
4 Fakta Suku Nyama Selam Pegayaman di Bali yang Punya Sistem Penamaan Unik, Warganya Banyak yang Bernama Ketut?
5 Murid Terkenal Sunan Kalijaga: Punya Kesaktian Luar Biasa Seperti Gurunya!
Pohon Keramat di Karimunjawa, Ditanam Anak Sunan Muria hingga Jadi Nama Bandara Jepara, Punya Khasiat Spiritual?
Keramat Pura Ratu Mas Sakti Bali, Kisah Tersembunyi Wujud Harmonisasi Hindu Islam yang Kini Ramai Peziarah dari Mancanegara
Nasi Kropokhan, Menu Khas Raja-raja Demak, Beda Sajian Raja dengan Rakyat Biasa
Makam Keramat Kembar Wali Pitu Penyebar Agama Islam di Bali, Tak Hanya Diziarahi Kaum Muslim tapi Juga Hindu Bali