Data menunjukkan bahwa pemilih kini lebih rasional dan kritis, memilih berdasarkan kemampuan calon untuk merepresentasikan harapan mereka, bukan hanya berdasarkan etnis.
Pada Pilpres 2019, Prabowo Subianto, yang cawapresnya bukan orang Jawa, kalah di Indonesia Timur.
Sebaliknya, Jokowi-Ma’ruf Amin meraih kemenangan signifikan di Papua dan Nusa Tenggara Timur berkat kebijakan pembangunan infrastruktur yang menguntungkan daerah-daerah tersebut.
Dukungan besar ini bukan karena kesamaan etnis, tetapi karena Jokowi dianggap mampu memberikan harapan dan perubahan nyata.
Dilanjut Ketika pilpres 2024 kemarin, Prabowo yang didampingi Gibran maju dalam pemilihan presiden.
Dengan kata lain, meskipun etnisitas memainkan peran dalam persepsi politik, pemilih kini lebih memprioritaskan calon yang dapat memenuhi harapan dan kebutuhan mereka.***
Artikel Terkait
4 Fakta Suku Nyama Selam Pegayaman di Bali yang Punya Sistem Penamaan Unik, Warganya Banyak yang Bernama Ketut?
5 Murid Terkenal Sunan Kalijaga: Punya Kesaktian Luar Biasa Seperti Gurunya!
Pohon Keramat di Karimunjawa, Ditanam Anak Sunan Muria hingga Jadi Nama Bandara Jepara, Punya Khasiat Spiritual?
Keramat Pura Ratu Mas Sakti Bali, Kisah Tersembunyi Wujud Harmonisasi Hindu Islam yang Kini Ramai Peziarah dari Mancanegara
Nasi Kropokhan, Menu Khas Raja-raja Demak, Beda Sajian Raja dengan Rakyat Biasa
Makam Keramat Kembar Wali Pitu Penyebar Agama Islam di Bali, Tak Hanya Diziarahi Kaum Muslim tapi Juga Hindu Bali