Kamis, 4 Juni 2026

Menjelajah Sejarah dan Keindahan Jam Gadang di Bukittinggi, Apakah Sama Dengan Big Ben di London?

Photo Author
Fadillah Nuzulul Rahman, Sketsa Nusantara
- Minggu, 16 Juni 2024 | 12:00 WIB
Jam Gadang di Bukittinggi, Sumatera Barat (X/Neo Historia)
Jam Gadang di Bukittinggi, Sumatera Barat (X/Neo Historia)

SketsaNusantara.id- Jam Gadang di Bukittinggi, Sumatera Barat, adalah ikon wisata yang menarik perhatian banyak wisatawan lokal dan mancanegara.

Jam Gadang ini didatangkan langsung dari Rotterdam, Belanda, melalui Pelabuhan Teluk Bayur.

Menariknya, mekanisme penggerak Jam Gadang ini hanya ada dua di dunia, satu di Bukittinggi dan satunya lagi di Big Ben, London.

Baca Juga: Hingga Tertulis di Relief Candi dan Kitab Kuno, Inilah 8 Makanan Nusantara yang Digemari Sejak Zaman Kerajaan

Melansir dari kanal youTube Teropong Kepri ID, Jam Gadang selesai dibangun pada tahun 1926 sebagai hadiah dari Ratu Belanda kepada Rook Maker, yang saat itu menjabat sebagai sekretaris atau kontroler Fort de Kock, sekarang dikenal sebagai Bukittinggi, pada masa pemerintahan Hindia Belanda.

Arsitektur menara jam ini dirancang oleh Yazid Rajo Mangkuto, seorang saudagar Minangkabau, dan peletakan batu pertamanya dilakukan oleh putra Rook Maker yang saat itu berusia 6 tahun.

Pembangunan menara ini menghabiskan biaya sekitar 3.000 Gulden, yang merupakan jumlah fantastis pada masanya.

Sejak didirikan, Jam Gadang telah mengalami tiga kali perubahan pada bentuk atapnya.

Baca Juga: Letaknya di Lereng Gunung, Telaga di Magetan ini Tak Pernah Sepi Pengunjung

Awalnya, pada masa pemerintahan Hindia Belanda, atap Jam Gadang berbentuk bulat dengan patung ayam jantan menghadap ke arah timur.

Pada masa pendudukan Jepang, bentuk atap diubah menjadi pagoda.

Setelah Indonesia merdeka, atap Jam Gadang diubah menjadi bentuk gonjong, menyerupai atap rumah adat Minangkabau, Rumah Gadang.

Renovasi terakhir dilakukan pada tahun 2010, didukung oleh Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI) dan Kedutaan Besar Belanda di Jakarta, serta diresmikan bertepatan dengan ulang tahun ke-262 Kota Bukittinggi pada 22 Desember 2010.

Salah satu keunikan Jam Gadang terletak pada penulisan angka empat dalam angka Romawi. Alih-alih ditulis IV, angka tersebut ditulis dengan IIII.

Halaman:

Editor: Zuhana Anibuddin Zuhro

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X