Perjalanan Ki Samijan tersebut dalam bahasa Jawa disebut dengan “Methentheng Niyat Ngulandra.”
Kata “Theng” diambil dari kata “Methentheng”, sedangkan “Ngul” diambil dari “Ngulandra.”
2. Terinspirasi dari Wayang Golek Menak
Keberadaan Wayang Thengul tidak terlepas dari Wayang Golek Menak yang berasal dari Kudus.
Sebelum diciptakan, Ki Samijan terinspirasi dari pertunjukkan Wayang Golek Menak Kudus yang ditontonnya.
Wayang Golek Menak saat itu digunakan untuk menyebarkan Agama Islam, sedangkan Wayang Thengul pada awalnya diciptakan untuk mengembangkan kreativitas dan mencari nafkah atau mengamen.
4. Berkisah Tentang Wayang Gedhog dan Wayang Menak
Pertunjukkan wayang yang terbuat dari kayu dan berbentuk tiga dimensi ini, biasa dimainkan oleh seorang dalang dan diiringi dengan gamelan pelog atau slendro.
Cerita yang dikisahkan adalah seputar cerita rakyat seperti Wayang Gedhog (cerita Kerajaan Majapahit) dan Wayang Menak (cerita Panji serta cerita para wali).
5. Dilestarikan Melalui Kampoeng Thengul
Dikutip SketsaNusantara.id dari laman resmi Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, Wayang Thengul dilestarikan di Desa Sumberrejo, Kecamatan Margomulyo, Kabupaten Bojonegoro dengan sebuah jenama bernama Kampoeng Thengul.
Baca Juga: 9 Warisan Wali Songo yang Membuat Wayang Kulit Makin Canggih sebagai Alat Dakwah Islam
Kampoeng Thengul adalah sebuah penjenamaan untuk Desa Sumberrejo sebagai destinasi wisata berbasis seni yang ada di Kabupaten Bojonegoro.
Artikel Terkait
Punya Agama Sendiri, Inilah 3 Pedoman Hidup Suku Samin di Bojonegoro hingga Ada Hukum Berbicara, Pakai Bahasa Apa?
Misteri Prabu Angling Dharma: Jejak Legenda Kerajaan Jawa yang Masih Hidup di Bojonegoro, Benar atau Mitos?
Menelusuri Jejak Hindu dan Islam di Kabupaten Bojonegoro, Dua Kerajaan Ini Punya Pengaruh Besar dalam Sejarah Perkembangan Wilayahnya
Dihormati tapi Juga Dibenci, Misteri Ksatria Wayang Kulit Berwujud Raksasa, Kutukan akibat Perbuatan Ayahnya?
3 Duet Maut di Wayang Kulit Jawa, Anak-Anak Pandawa Paling Sakti dan Kompak di Babak Perang Kembang
Karakter Tragis dalam Wayang Kulit, Kisah Sang Ksatria yang Terjebak Antara Kesetiaan dan Identitas Asli