Minggu, 19 Juli 2026

Menelusuri Jejak Hindu dan Islam di Kabupaten Bojonegoro, Dua Kerajaan Ini Punya Pengaruh Besar dalam Sejarah Perkembangan Wilayahnya

Photo Author
Qorry 'Aina Damayanti, Sketsa Nusantara
- Senin, 2 September 2024 | 21:00 WIB
Ilustrasi pintu gerbang masuk ke wilayah Kabupaten Bojonegoro (Instagram/@maliogorostory)
Ilustrasi pintu gerbang masuk ke wilayah Kabupaten Bojonegoro (Instagram/@maliogorostory)

SketsaNusantara.id - Bojonegoro, sebuah kabupaten di Jawa Timur, menyimpan sejarah panjang yang kaya akan peristiwa dan kebudayaan.

Tidak banyak yang tahu bahwa wilayah ini memiliki jejak sejarah yang mendalam, mulai dari pengaruh Hindu di masa kerajaan kuno hingga Islam di masa kerajaan Demak dan Mataram.

Dilansir SketsaNusantara.id dari laman bojonegorokab.go.id, nama "Bojonegoro" berasal dari bahasa Kawi, yaitu "Bodja" yang berarti makanan atau pengasuh, dan "Negara" yang berarti wilayah.

Baca Juga: 5 Kerajaan Islam Tertua Solor Watan Lema Nusa Tenggara Timur: Dibawa oleh Seorang Ulama dan Pedagang yang Tersohor

Jika digabungkan, nama ini menggambarkan sebuah wilayah yang kaya akan sumber daya pangan, sebuah konsep yang mencerminkan kesejahteraan dan ketahanan pangan yang menjadi ciri khas Bojonegoro.

Sejarah Bojonegoro dimulai jauh sebelum masa kerajaan Islam, ketika wilayah ini menjadi bagian dari Kerajaan Majapahit, salah satu kerajaan Hindu terbesar di Indonesia.

Bukti keberadaan Hindu di Bojonegoro dapat dilihat dari berbagai situs arkeologi yang masih ada hingga kini.

Baca Juga: Meski Suka Berpindah-pindah, Tidak Menjadi Alasan Kerajaan di Nusantara yang Satu Ini untuk Tidak Menguasai Pulau Jawa

Ketika Majapahit runtuh pada abad ke-16, wilayah ini kemudian menjadi bagian dari Kerajaan Demak, kerajaan Islam pertama di Jawa yang dipimpin oleh Raden Patah.

Peralihan kekuasaan dari Majapahit ke Demak menandai perubahan besar dalam struktur sosial dan budaya Bojonegoro. Dari pengaruh Hindu yang kuat, Bojonegoro beralih menjadi wilayah dengan dominasi budaya Islam, tetapi transisi ini berlangsung damai tanpa konflik berarti.

"Sepi ing pamrih, rame ing gawe" menjadi semboyan yang mewarnai kehidupan masyarakat Bojonegoro, mencerminkan semangat kerja keras dan tanpa pamrih yang telah diwarisi sejak zaman Majapahit.

Baca Juga: Kolam Kuno Segaran Warisan Kerajaan Majapahit di Trowulan Mojokerto, Simpan Cerita Jadi Tempat Rekreasi Bangsawan Terdahulu

Namun, perjalanan sejarah Bojonegoro tidak berhenti di sini. Setelah menjadi bagian dari Demak, Bojonegoro kembali mengalami perubahan kekuasaan saat menjadi wilayah Kerajaan Pajang dan kemudian Mataram.

Pada tahun 1677, di bawah pengaruh VOC, Bojonegoro berubah menjadi kabupaten dengan bupati pertama, Mas Tumapel, yang diangkat sebagai Bupati Mancanegara Wetan.

Halaman:

Editor: Zuhana Anibuddin Zuhro

Sumber: bojonegorokab.go.id

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X