Kamis, 4 Juni 2026

Kisah Desa di Atas Awan dan Makam Keramat di Lereng Pegunungan Wilis, Ada Ritual Ziarah Bulan Suro yang Menarik Ribuan Peziarah ke Ngliman

Photo Author
Qorry 'Aina Damayanti, Sketsa Nusantara
- Kamis, 17 April 2025 | 21:45 WIB
Ilustrasi pemandangan di Desa Ngliman, desa di ketinggian Nganjuk yang ramai peziarah di bulan Suro  (Pixabay.com/ Tama66)
Ilustrasi pemandangan di Desa Ngliman, desa di ketinggian Nganjuk yang ramai peziarah di bulan Suro (Pixabay.com/ Tama66)

SketsaNusantara.id – Di tengah bayang-bayang anggapan sebagai bulan penuh sial dan kesialan, bulan Suro justru menjadi momen penting bagi banyak masyarakat Jawa untuk menenangkan jiwa dan mendekatkan diri pada Sang Pencipta.

Salah satu bentuk ekspresinya adalah dengan melakukan tirakat dan ziarah ke makam para leluhur dan tokoh spiritual.

Salah satu destinasi yang tak pernah sepi peziarah saat bulan Suro adalah Desa Ngliman, sebuah desa terpencil yang berada di Kecamatan Sawahan, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur.

Baca Juga: Menembus Misteri dan Keindahan Pulau Nusa Barong, Surga Tak Berpenghuni di Selatan Jember yang Eksotis dan Diburu Para Wisatawan

Terletak di ketinggian sekitar 1.300 meter di atas permukaan laut (MDPL), desa ini dikenal sebagai salah satu desa tertinggi di lereng Pegunungan Wilis.

Bukan hanya panorama alamnya yang memesona, Ngliman juga menyimpan kekayaan sejarah dan spiritual yang membuatnya istimewa di hati banyak orang.

Dilansir SketsaNusamtara.id dari Youtube Jejak Richard, di desa inilah terletak makam keramat Eyang Ageng Ngaliman, seorang tokoh penyebar Islam dari Surakarta yang dikenal sakti dan diyakini memiliki garis keturunan Arab.

Baca Juga: Mencicipi Gurihnya Bubur Suro, Takjil Bulan Puasa yang Hanya Ada di Tuban, Kuliner Warisan Sunan Bonang

Konon, Eyang Ageng Ngaliman dahulu mendirikan sebuah padepokan di kawasan tersebut dan aktif menyebarkan ajaran Islam di tengah masyarakat Ngliman.

Sebagai bentuk warisan spiritual, beliau juga membangun sebuah masjid yang hingga kini masih digunakan warga untuk beribadah. Makamnya menjadi pusat ziarah yang sangat ramai terutama saat malam 1 Suro, malam yang dipercaya sebagai waktu paling sakral dalam kalender Jawa.

Ziarah dan Tradisi Berendam di Air Terjun Sedudo

Menariknya, sebelum berziarah ke makam Eyang Ageng Ngaliman, para peziarah dari berbagai penjuru daerah biasanya mengikuti tradisi khas Desa Ngliman, yaitu berendam di Air Terjun Sedudo. Air terjun ini terletak tak jauh dari kompleks makam dan dianggap memiliki aura spiritual yang kuat.

Baca Juga: Ditemukan di Tengah Hutan Jember, Makam Tokoh Perempuan Ini Konon Cikal Bakal Para Kyai dan Pesantren Besar di Jawa Timur

Tradisi berendam ini dipercaya sebagai simbol penyucian diri, membuang energi negatif, dan mempersiapkan jiwa sebelum berdoa atau berziarah.

Halaman:

Editor: Zuhana Anibuddin Zuhro

Sumber: YouTube Jejak Richard

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X