sketsa

Mengenang 15 Tahun Wafatnya KH Abdurrahman Wahid: Gus Dur dan Tradisi Literasi

Sabtu, 21 Desember 2024 | 16:30 WIB
Mukani, Dosen STIT Urwatul Wutsqo Jombang

Baca Juga: Didukung Sinta Nuriyah, Pramono Anung Sebut 'Jumat Berkah' dan Makin Optimis Hadapi Pilgub Jakarta 2024 Usai Dapat Restu Istri Gus Dur

Ketika sekolah di SMEP Yogyakarta, Gus Dur sudah selesai membaca buku Das Capital yang terdiri dari empat jilid. Buku ini adalah “kitab induk” karya Karl Marx, tokoh ideologi komunisme di dunia. Termasuk juga buku-buku filsafat karya Plato dan Thalles, termasuk novel-novel William Bochner.

Tidak mengherankan jika Gus Dur memiliki banyak karya tulis. Buku-buku karya Gus Dur yang ditulis sendiri sudah tidak bisa dihitung dengan jari.

Termasuk buku-buku yang diterbitkan dari kumpulan artikelnya yang tersebar di media massa. Itu belum ditambah berbagai judul buku yang mengkaji sosok ketua umum PBNU tiga periode itu.

Baca Juga: Amalan Sunan Ampel, Kyai Hasyim Asy'ari, hingga Gus Dur untuk Pembuka Aliran Rezeki yang Deras

Inspirasi Literasi

Rilis hasil riset terbaru dari CEO World 2024 cukup mengelus dada. Topik yang diteliti adalah waktu yang dihabiskan untuk membaca dalam kurun waktu satu tahun.

Dari 98 negara yang disurvei, Indonesia berada di ranking 31 dengan hanya 129 jam. Ranking tertinggi ditempati Amerika Serikat dengan 357 jam, kedua adalah India dengan 352 jam dan ketiga adalah Inggris dengan 343 jam.

Padahal sejak tahun 2022 Kemendikbud RI sudah mendorong pembiasaan literasi di dunia pendidikan Indonesia. Baca tulis merupakan jenis literasi dasar yang harus dikuasai anak sebelum mengenal jenis literasi lainnya. Baik literasi numerasi, literasi sains, literasi budaya, literasi finansial dan literasi digital.

Baca Juga: Digembleng Prabowo di Lembah Tidar, Adik Gus Dur Usul Cak Imin dan Gus Ipul Ditempatkan di Satu Tenda! Apa Alasannya?

Hasil pengukuran tingkat literasi dunia pada April 2016, di sisi lain, Indonesia berada di posisi ke-60 di antara 61 negara anggota. Posisi Indonesia hanya lebih baik dari pada Botswana, negara kecil di Afrika yang berpenduduk hanya 2,1 juta jiwa.

Perpaduan antara budaya literasi yang rendah dan akses ke media sosial yang tinggi menimbulkan dampak luar biasa.

Orang dengan latar belakang profesi ikut menyebarkan hoax. Hal itu dipicu kecenderungan masyarakat Indonesia yang ingin menjadi nomor satu. Termasuk dalam hal penyebaran berita. Meski tanpa mengklarifikasi kabar yang diterima kebenaran dan validitas berita tersebut.

Baca Juga: Ramalan Prabowo Akan Menjadi Presiden Sudah Terbukti, Inilah 7 Musuh Berbahaya yang Akan Dihadapi Sang Presiden Menurut Ramalan Gus Dur

Apa yang sudah dilakukan Gus Dur memberikan teladan konkrit bagi kemajuan dunia literasi. Tradisi membaca dan banyaknya karya yang dilakukan sejak remaja menunjukkan sebagai dua kemampuan dasar dalam literasi. Artinya, keduanya sudah dikuasai Gus Dur sejak belia.

Halaman:

Tags

Terkini

Jangan Biarkan Kota Santri Kehilangan Jati Diri

Jumat, 26 Juni 2026 | 09:40 WIB

Sistem Keulamaan dan Ahwa Permanen dalam NU

Selasa, 16 Juni 2026 | 16:49 WIB

Refleksi Hardiknas 2026: Pendidikan dan Buku

Jumat, 1 Mei 2026 | 16:35 WIB

Menimbang Dampak AI pada Nalar Generasi Bangsa

Kamis, 30 April 2026 | 12:05 WIB

Guru Pejuang Literasi

Selasa, 7 April 2026 | 10:35 WIB

Ketika Inklusi Berubah Menjadi Eksploitasi

Selasa, 24 Maret 2026 | 14:35 WIB

Idul Fitri dan Momentum Transformasi Digital UMKM

Kamis, 19 Maret 2026 | 13:30 WIB

Gus Dur, Cina dan Islam

Kamis, 19 Februari 2026 | 21:25 WIB