sketsa

Remaja, Media Sosial, dan Identitas Nasional

Kamis, 24 Oktober 2024 | 11:50 WIB
Peran remaja di mediao sosial untuk identitas nasional. (Dok. SketsaNusantara.id)

Selain itu, bergantung pada definisi dari medsos itu sendiri, platform aplikasi obrolan lainnya yang terkadang disebut sebagai layanan medsos, yaitu Telegram, WhatsApp, Signal, LINE dan Microsoft Teams.

Meski sangat membantu manusia dalam menjalani kehidupan, kecanggihan teknologi berupa medsos juga berdampak negatif.

Salah satunya kejahatan yang dilakukan melalui dunia maya (cyber crime). Ini menjadi tanggung jawab bersama, terutama pemerintah, untuk meminimalisasi dampaknya agar tidak makin meluas.

Baca Juga: Adanya Indikasi Ketidaknetralan Penyelenggara, PC PMII Jember Ingatkan KPU Jaga Integritas dan Dorong Bawaslu Perkuat Pengawasan Jelang Pilkada

Menurut Jualidi Warman (2023), banyak macam tindak kejahatan yang sering terjadi di medsos. Mulai dari penipuan jual beli, pembajakan akun (pishing), penculikan, pemerkosaan, penggelapan hingga prostitusi online. Termasuk pencurian uang, pelanggaran privasi, pemfitnahan maupun pelecehan verbal.

Potensi Remaja
Sebagai sebuah generasi, istilah remaja didefinisikan sebagai masa peralihan dari anak-anak menuju dewasa yang ditandai dengan berbagai perubahan fisik, psikologis dan intelektual.

Beberapa ciri yang melekat pada remaja, di antaranya pertumbuhan fisik yang pesat, kesadaran diri yang tinggi dan selalu tertarik untuk mencoba sesuatu yang baru.

Remaja sekarang adalah masyarakat sosial yang melek dan adaptabel pada teknologi. Mereka cenderung suka memanfaatkan teknologi untuk mempermudah segala aktivitas, tidak terkecuali aktivitas belanja. Dengan kemajuan teknologi cara pembayaran, membuat generasi ini makin cenderung tidak membawa uang tunai (cashless).

Generasi ini lahir bersamaan dengan munculnya teknologi informasi dan komunikasi yang membuat mereka mengenal gawai, mengakses komputer dan memiliki sosial media. Hal tersebut membentuk karakter yang kreatif dan inovatif dalam pemanfaatan teknologi. Studi tersebut menggambarkan perilaku generasi akrab internet ini memilih jalur daring untuk beraktivitas dalam keseharian.

Mereka sebagai kelompok umur yang masuk dalam era keterbukaan informasi dan komunikasi, mampu menerabas sekat-sekat negara yang sudah dibentangkan secara geografis sejak dahulu kala.

Generasi inilah yang, di satu sisi, dikhawatirkan akan mengalami gerusan semangat nasionalisme, di samping juga alienasi dari lingkungan sekitarnya.

Fenomena ini, menurut Ngainun Naim (2024), sesungguhnya menyediakan ruang bagi kita untuk melakukan refleksi dalam makna yang substantif. Teknologi memang telah menjadi bagian tidak terpisah dari kehidupan.

Meskipun demikian, kita seharusnya memanfaatkan teknologi untuk hal-hal yang bermanfaat bagi kehidupan. Bukan justru terhegemoni dan tidak menjadi manusia yang kreatif.

Sebagai alternatif solusi, mengikuti pendapat Rajasa (2007), generasi muda harus mengembangkan karakter nasionalisme demi mempertahankan identitas nasional. Baik sebagai pembangun karakter (character builder), pemberdayaan karakter (character enabler) maupun perekayasa karakter (character engineer).

Ini karena identitas nasional, menurut Baso Madiong (2018), adalah jati diri atau kepribadian bangsa Indonesia yang membedakannya dengan bangsa lain.

Halaman:

Tags

Terkini

Jangan Biarkan Kota Santri Kehilangan Jati Diri

Jumat, 26 Juni 2026 | 09:40 WIB

Sistem Keulamaan dan Ahwa Permanen dalam NU

Selasa, 16 Juni 2026 | 16:49 WIB

Refleksi Hardiknas 2026: Pendidikan dan Buku

Jumat, 1 Mei 2026 | 16:35 WIB

Menimbang Dampak AI pada Nalar Generasi Bangsa

Kamis, 30 April 2026 | 12:05 WIB

Guru Pejuang Literasi

Selasa, 7 April 2026 | 10:35 WIB

Ketika Inklusi Berubah Menjadi Eksploitasi

Selasa, 24 Maret 2026 | 14:35 WIB

Idul Fitri dan Momentum Transformasi Digital UMKM

Kamis, 19 Maret 2026 | 13:30 WIB

Gus Dur, Cina dan Islam

Kamis, 19 Februari 2026 | 21:25 WIB