Sesungguhnya suara itu akan menjadi kata
Ia yang mengajari aku untuk bertanya
dan pada akhirnya tidak bisa tidak
engkau harus menjawabnya
Bait terakhir dari puisi ini membuat merinding saat dibaca atau didengarkan, karena menghadirkan kesan peringatan atau ancaman bagi yang menyepelekan hak (ber)suara.
Apabila engkau tetap bertahan
Aku akan memburumu seperti kutukan!
Lirik demi lirik Sajak Suara terus bergema, menjeritkan kerinduan atas keadilan dan kebebasan. Kegelisahan, amarah, dan harapan rakyat kecil berkelindan dalam ruang-ruang marjinal.
Gema Sajak Suara masih relevan dan mencengkeram di tengah kondisi Indonesia yang masih bergulat dengan isu-isu kebebasan berekspresi.
Baca Juga: DPR Setujui PKPU Pilkada Sesuai Putusan MK, Mahfud MD: Secara Politik Raja Jawa Itu Tidak Ada Lagi
Sajak Suara mengingatkan kita untuk tidak diam dalam menghadapi ketidakadilan. Dalam derap gempita informasi yang kadang membingungkan dan tak jarang menyesatkan, keberanian untuk berbicara dan bertindak menjadi semakin penting.
Wiji Thukul adalah semangat perlawanan yang tulus, mengajak untuk tidak tunduk pada ketakutan, dan terus berjuang demi kebenaran dan keadilan.
Suaranya akan terus hidup, menginspirasi generasi baru untuk melanjutkan perjuangan dengan cara mereka sendiri.
Wiji Thukul bukan sekadar penyair. Dia adalah simbol, sebuah suara yang tak pernah padam. Ia akan terus memburu kita seperti kutukan.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini!