sketsa

Mengenang Jejak Resolusi Jihad, Kisah Heroik Perjuangan Kemerdekaan Indonesia yang Lahir dari Kegelisahan KH Hasyim Asy'ari

Sabtu, 17 Agustus 2024 | 16:00 WIB
KH Hasyim Asy'ari, tokoh pendiri NU dan sosok di balik lahirnya Resolusi Jihad (Instagram/@dzakimania_banjarnegara)

Dikutip SketsaNusantara.id dari laman tebuireng.online, fatwa KH Hasyim Asy'ari yang mendasari Resolusi Jihad ini menegaskan bahwa perlawanan terhadap penjajah adalah wajib (fardhu 'ain) bagi setiap Muslim yang mampu.

Bagi NU, mempertahankan kemerdekaan adalah bagian dari upaya menegakkan syariat Islam, yang tidak mungkin terwujud di negeri yang masih berada di bawah cengkeraman penjajah. KH Hasyim Asy'ari dengan tegas menyatakan bahwa tidak akan ada kemuliaan Islam di negeri yang terjajah.

Laskar Hizbullah 'Anak yang Lahir' dari Manifestasi Resolusi Jihad

Tidak berhenti pada seruan, NU melalui Resolusi Jihad ini juga membentuk Laskar Hizbullah, sebuah milisi yang anggotanya mayoritas adalah santri dan pemuda Muslim yang sebelumnya telah mendapatkan pelatihan militer dari Jepang.

Laskar ini menjadi perwujudan nyata dari Resolusi Jihad, yang berjuang di garda depan dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Puncak dari semangat perlawanan ini terlihat pada peristiwa 10 November 1945, yang dikenal sebagai Hari Pahlawan. Pertempuran dahsyat antara pasukan Indonesia melawan tentara sekutu di Surabaya berlangsung selama tiga minggu, dan akhirnya berujung pada kekalahan sekutu serta tewasnya Brigadir Jenderal Mallaby.

Baca Juga: Asal-usul Malam Tirakatan 17 Agustus, Tradisi Masyarakat Jawa Sambut Kemerdekaan Sudah Ada Sejak Sultan Hamengkubuwono IX?

Meski sejarah tidak selalu mencatat peran penting KH Hasyim Asy'ari dan para santri dalam peristiwa ini, pemerintah Indonesia mengakui kontribusi mereka dengan menetapkan KH Hasyim Asy'ari sebagai Pahlawan Nasional melalui Keppres Nomor 249 tahun 1945.

Warisan Semangat Resolusi Jihad

Semangat Resolusi Jihad yang dicetuskan oleh KH Hasyim Asy'ari tidak hanya menjadi kisah heroik masa lalu, tetapi juga merupakan warisan yang harus dijaga oleh generasi muda Indonesia.

Jihad dalam konteks saat ini tidak lagi berbentuk angkat senjata, tetapi lebih kepada perjuangan untuk menjaga kemerdekaan melalui pendidikan, kerja keras, dan keteguhan dalam mempertahankan nilai-nilai bangsa.

Baca Juga: Siapa Suhud Sastro Kusumo? 5 Fakta Tokoh yang Lindungi Keluarga Bung Karno, Saat Kemerdekaan Indonesia Berperan Sebagai...

Semangat ini harus terus ditanamkan dalam diri generasi muda, agar mereka dapat meneruskan perjuangan untuk mengisi kemerdekaan dengan hal-hal yang positif dan bermanfaat bagi bangsa dan negara.

Resolusi Jihad adalah bukti bahwa kemerdekaan bukanlah akhir, melainkan awal dari perjuangan untuk menjaga kedaulatan bangsa, demi masa depan yang lebih baik.***

 

Halaman:

Tags

Terkini

Refleksi Hardiknas 2026: Pendidikan dan Buku

Jumat, 1 Mei 2026 | 16:35 WIB

Menimbang Dampak AI pada Nalar Generasi Bangsa

Kamis, 30 April 2026 | 12:05 WIB

Guru Pejuang Literasi

Selasa, 7 April 2026 | 10:35 WIB

Ketika Inklusi Berubah Menjadi Eksploitasi

Selasa, 24 Maret 2026 | 14:35 WIB

Idul Fitri dan Momentum Transformasi Digital UMKM

Kamis, 19 Maret 2026 | 13:30 WIB

Gus Dur, Cina dan Islam

Kamis, 19 Februari 2026 | 21:25 WIB

Kiprah Kiai Kampung Memajukan Nusantara

Kamis, 5 Februari 2026 | 17:35 WIB

Kebijakan Kuota Haji: Adakah Pelanggarannya?

Senin, 26 Januari 2026 | 09:14 WIB