SketsaNusantara.id - Ketika Indonesia mendeklarasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945, banyak yang mengira perjuangan telah usai.
Namun, bagi Rois Akbar Nahdlatul Ulama (NU), KH Hasyim Asy'ari, kemerdekaan tersebut hanyalah awal dari perjuangan yang jauh lebih panjang.
KH Hasyim Asy'ari, seorang ulama besar yang juga kakek dari Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur), merasakan kegelisahan yang mendalam saat melihat kedatangan Brigade 49 Divisi India Tentara Inggris di Surabaya, yang dipimpin oleh Brigadir Jenderal A.W.S. Mallaby.
Baca Juga: Fakta di Balik Foto Pembacaan Teks Proklamasi Kemerdekaan, Ternyata Hasil dari...
Bagi KH Hasyim Asy'ari, kehadiran tentara Inggris ini bukan sekadar kedatangan sekutu, melainkan ancaman nyata kembalinya penjajahan Belanda di bumi Indonesia.
Di tengah kekhawatiran tersebut, KH Hasyim Asy'ari menyaksikan sikap pemerintah Indonesia yang dianggapnya pasif dalam menghadapi ancaman sekutu dan NICA (Netherlands Indies Civil Administration).
Di saat itulah, kegelisahan beliau mewujud menjadi sebuah gerakan yang dikenal dengan Resolusi Jihad, sebuah pernyataan yang disampaikan pada 22 Oktober 1945, saat wakil-wakil NU dari seluruh Jawa dan Madura berkumpul.
Resolusi jihad ini tidak hanya menjadi kritik terhadap pemerintah, tetapi juga sebagai seruan kepada seluruh umat Islam untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia berdasarkan ajaran Islam.
Melawan Penjajahan dengan Spirit Jihad
Resolusi Jihad yang dikeluarkan oleh NU memiliki makna yang mendalam. Isinya adalah tuntutan untuk berperang melawan siapapun yang mengancam kemerdekaan Indonesia, termasuk sekutu yang saat itu diboncengi oleh Belanda.
Dalam pandangan KH Hasyim Asy'ari dan NU, Belanda dan sekutu tidak memiliki legitimasi untuk menguasai Indonesia. Mereka dianggap sebagai agresor yang ingin mengembalikan Indonesia ke dalam jeratan penjajahan.
Oleh karena itu, NU mendesak pemerintah untuk segera mendeklarasikan Perang Jihad melawan sekutu dan NICA.