sketsa

Buku Puisi Rindu yang Tak Kenal Jalan Pulang Karya Irma Devita, Ode Tertinggi Penghormatan Kepada yang Terkasih

Senin, 13 April 2026 | 13:00 WIB
Buku Rindu yang Tak Kenal Jalan Pulang karya Irma Devita Purnamasari (Sketsa Nusantara.id/ Zuhana AZ)

Betapa berat menandai peta, tanpa suara yang dulu jadi petunjuk jalan

tanpa pelukan yang diam-diam selalu jadi kompas pulang (Cuplikan puisi Kursi Kosong di Peta Kami, Buku Rindu Yang Tak Kenal Jalan Pulang)

SketsaNusantara.id - Buku Rindu Yang Tak Kenal Jalan Pulang terasa seperti sebuah ruang sunyi yang dibuka lebar untuk pembaca. Ia bukan sekadar kumpulan puisi, melainkan catatan batin seseorang yang sedang berusaha bertahan setelah kehilangan paling dalam dalam hidupnya.

Dari awal membaca, kita langsung paham bahwa ini bukan karya yang lahir dari ambisi sastra, tapi dari luka yang tidak menemukan tempat lain untuk pulang.

Selama ini, Irma Devita Purnamasari dikenal sebagai sosok yang kuat dan rasional. Ia seorang notaris/PPAT, penulis buku hukum, dan pembicara yang terbiasa berbicara dengan bahasa yang sistematis dan jelas. Dunia yang ia tekuni adalah dunia kepastian. Kesehariannya berkutat dengan pasal, aturan, dan solusi. Tapi hidup tidak selalu berjalan dengan logika seperti itu.

 Baca Juga: ICCN Luncurkan Buku Retrospektif Kota Kreatif Indonesia, Kolaborasi Lebih dari 50 Penulis Rekam Perjalanan Kota Kreatif dari Yogyakarta hingga Blitar

Ketika suaminya, Suswinarno atau yang akrab disapa Mas Win, meninggal dunia pada 29 Agustus 2024, semua yang selama ini terasa pasti mendadak runtuh. Sosok yang selama puluhan tahun menjadi teman hidup, tempat berbagi cerita, tempat pulang, tiba-tiba tidak lagi ada. Bukan sekadar kehilangan pasangan, tapi kehilangan bagian dari diri sendiri.

Mas Win bukan hanya suami dalam arti formal. Ia adalah pendamping hidup yang menemani perjalanan panjang sejak pernikahan mereka pada 27 Juli 1997. Seorang akuntan, pengusaha, dan pakar keuangan, ia dikenal sebagai pribadi yang stabil dan menjadi penopang dalam kehidupan keluarga mereka. Kehadirannya bukan sesuatu yang bisa digantikan, dan kepergiannya meninggalkan ruang kosong yang begitu besar.

Buku yang terdiri dari 101 puisi ini terbagi menjadi 9 babak perjalanan untuk menggambarkan kisah Irma Devita dengan Suswinarno mulai dari masa berpacaran, menikah, indahnya perbedaan, perjalanan-perjalanan semasa mereka hidup, proses penantian sang buah hati, perpisahan, hingga masa-masa terpuruk saat ditinggalkan dan kebangkitan. 

Baca Juga: Bedah Dua Buku Asal Usul Soekarno, Binhad Nurrohmat Simpulkan Presiden Pertama RI Lahir di Jombang

Kehilangan itu tidak berhenti pada rasa sedih. Ia menjalar ke tubuh dan pikiran. Dunia terasa berubah. Hal-hal yang dulu biasa saja kini terasa berat. Ia menjalani berbagai pengobatan dan terapi, dari dokter hingga psikiater, dari psikolog hingga hypnotherapist. Semua dilakukan dengan harapan bisa menemukan jalan keluar. Tapi ada satu hal yang tidak bisa disembuhkan dengan cara biasa yaitu kehilangan orang yang paling dicintai.

Di titik inilah menulis menjadi jalan. Bukan karena ingin membuat buku, tapi karena butuh ruang untuk melepaskan. Irma mulai menulis, dan tanpa direncanakan, bentuk yang paling jujur baginya adalah puisi. Puisi memberi ruang bagi perasaan yang berantakan untuk tetap bisa keluar tanpa harus dijelaskan secara logis.

Ia terus menulis. Dari satu puisi ke puisi lain. Dari satu malam ke malam berikutnya. Semua ditulis dengan perasaan yang sama. Ada rindu, sakit, doa, dan usaha untuk tetap bertahan. Hingga akhirnya terkumpul sekitar seratus puisi. Semua lahir dari luka yang sama.

Irma Devita menuliskan 101 puisi dengan bahasa yang sederhana. Alih-alih memakai bahasa sastra yang sulit dijangkau, puisi ini justru berisi kalimat-kalimat ringan selayaknya percakapan antara dua orang. Justru karena itulah, pesan yang ingin disampaikan Irma bahkan telah dengan mudah tiba di hati pembacanya bahkan sejak dari halaman pertama. 

Halaman:

Tags

Terkini

Refleksi Hardiknas 2026: Pendidikan dan Buku

Jumat, 1 Mei 2026 | 16:35 WIB

Menimbang Dampak AI pada Nalar Generasi Bangsa

Kamis, 30 April 2026 | 12:05 WIB

Guru Pejuang Literasi

Selasa, 7 April 2026 | 10:35 WIB

Ketika Inklusi Berubah Menjadi Eksploitasi

Selasa, 24 Maret 2026 | 14:35 WIB

Idul Fitri dan Momentum Transformasi Digital UMKM

Kamis, 19 Maret 2026 | 13:30 WIB

Gus Dur, Cina dan Islam

Kamis, 19 Februari 2026 | 21:25 WIB

Kiprah Kiai Kampung Memajukan Nusantara

Kamis, 5 Februari 2026 | 17:35 WIB

Kebijakan Kuota Haji: Adakah Pelanggarannya?

Senin, 26 Januari 2026 | 09:14 WIB