sketsa

Guru Pejuang Literasi

Selasa, 7 April 2026 | 10:35 WIB
Mukani. (SketsaNusantara.id)

Di lapangan, masih banyak ditemukan adanya kesenjangan. Di mana sebagian guru masih rendah dalam minat baca buku dan lebih dominan menggunakan media sosial. Hal ini tentu berdampak kepada kualitas pembelajaran di sekolah.

Padahal guru literat dituntut mampu bertindak sebagai pembelajar sepanjang hayat. Termasuk berbagi praktik baik dan penggerak budaya literasi. Penguatan literasi digital, penggunaan sumber belajar digital yang valid dan penerapan kurikulum terintegrasi teknologi menjadi kunci utama.

Menurut Hasti Budi Santoso (2023), puncak dari kemahiran guru dalam berliterasi terletak dari pengembangan profesi. Artinya, guru harus berpartisipasi aktif dalam kegiatan pengembangan profesi di forum guru atau lembaga profesi. Guru harus menunjukkan kegemaran membaca, memiliki kompetensi menulis, membagi dan menuliskan praktik baik pembelajaran dan/atau penelitian.

Baca Juga: Update Kasus Pembunuhan Pemangku Hajat di Purwakarta, Polisi Tangkap Salah Seorang Pelaku di Subang

Agar seorang guru mampu membudayakan literasi, komitmen kuat harus dijaga. Motivasi utama untuk mendapatkan koin dan poin dalam menulis. Secara konsisten, luangkan waktu untuk berkarya. Terkadang, semangat harus dipaksa untuk berliterasi. Guru juga harus berani menerbitkan karyanya.

Kritik pembaca adalah obat bagi perbaikan karya selanjutnya. Guru sudah seharusnya tidak mudah puas dengan hasil yang sudah ada dan terus mencoba bentuk lain publikasi.

Sumber tulisan karya guru bisa berasal dari lingkungan sekolah, terutama yang unik dan menginspirasi. Kebijakan pemerintah, pernyataan tokoh dan berita di media massa yang sedang aktual juga bisa dijadikan bahan awal dalam menulis karya. Kajian terhadap buku teks pelajaran juga dimungkinkan menjadi sumber tulisan bagi guru.

Baca Juga: Geger! Karyawan SPPG di Umbulsari Jember Jadi Korban Perampokan Sadis, Begini Kronologinya

Sebagai penulis yang baik, guru harus menulis berdasar fakta dan bukan hoax serta tidak menjelekkan yang lain (hate speech). Dalam suatu tulisan, hendaknya ada sisi menarik, unik, baru, dan menginspirasi. Ejaan dan kaidah tulisan juga wajib diperhatikan. Termasuk juga terbuka untuk minta masukan dari ahli atau teman sebaya.

Menulis buku bagi guru sebenarnya bukan hal sulit. Hanya diperlukan kemauan dan langkah konkrit untuk mewujudkannya. Jika ini bisa dilakukan secara kontinyu, menulis akan menjadi sebuah rutinitas yang menyenangkan bagi guru.

Pihak stakeholders juga diharapkan memiliki political will yang tinggi untuk memajukan literasi guru dengan melakukan reward and punishment secara nyata di lapangan.

Perjuangan guru dalam literasi bukan urusan materi. Namun, lebih kepada sumbangsih bagi pengembangan sains untuk membangun peradaban bangsa. Terutama dalam mencerdaskan anak bangsa sesuai amanat konstitusi negara.***

*Guru Ahli Madya (597) SMAN 1 Jombang dan Penerima Anugerah Guru Teladan Literasi dari Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur (2024)

Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini

Halaman:

Tags

Terkini

Refleksi Hardiknas 2026: Pendidikan dan Buku

Jumat, 1 Mei 2026 | 16:35 WIB

Menimbang Dampak AI pada Nalar Generasi Bangsa

Kamis, 30 April 2026 | 12:05 WIB

Guru Pejuang Literasi

Selasa, 7 April 2026 | 10:35 WIB

Ketika Inklusi Berubah Menjadi Eksploitasi

Selasa, 24 Maret 2026 | 14:35 WIB

Idul Fitri dan Momentum Transformasi Digital UMKM

Kamis, 19 Maret 2026 | 13:30 WIB

Gus Dur, Cina dan Islam

Kamis, 19 Februari 2026 | 21:25 WIB

Kiprah Kiai Kampung Memajukan Nusantara

Kamis, 5 Februari 2026 | 17:35 WIB

Kebijakan Kuota Haji: Adakah Pelanggarannya?

Senin, 26 Januari 2026 | 09:14 WIB