Oleh: Mukani*
SketsaNusantara.id - Jumlah guru di Indonesia terus meningkat seiring kebutuhan sistem pendidikan nasional. Data Kemendikdasmen RI menunjukkan, pada tahun pelajaran 2025/2026, total guru mencapai 3,47 juta orang yang tersebar di seluruh provinsi.
Data per 24 November 2025 menunjukkan bahwa Provinsi Jawa Barat masih memegang posisi sebagai daerah dengan jumlah guru terbanyak di Indonesia, dengan sebanyak 656.824 guru. Lalu disusul Jawa Timur sebanyak 559.809 guru dan Jawa Tengah sebanyak 480.770 guru.
Namun, kuantitas guru ini belum berkorelasi positif dengan peningkatan kualitas literasi di Indonesia. Terlebih jika dibandingkan dengan negara-negara lainnya. Riset dari United Nations Education, Scientific and Cultural Organization (2024) memposisikan Indonesia berada di peringkat kedua dari bawah soal literasi dunia. Minat baca masyarakat Indonesia sangat memprihatinkan, hanya 0,001%. Artinya, dari 1.000 orang Indonesia, cuma satu orang yang rajin membaca.
Di tahun yang sama, penelitian CEOWorld menunjukkan hasil mencengangkan. Lembaga ini mensurvei negara-negara yang paling rajin membaca buku dalam satu tahun. Ranking tertinggi diduduki oleh Amerika Serikat dengan 357 jam setiap tahun digunakan membaca buku. Sedangkan Indonesia “bertengger” di ranking 31 hanya dengan 129 jam.
Literasi guru di Indonesia menunjukkan tren peningkatan dalam aspek digital (indeks 3,54 pada 2022). Namun secara umum masih menghadapi tantangan serius dalam minat baca dan kompetensi literasi dasar. Data PISA 2022 menempatkan kemampuan membaca siswa Indonesia di peringkat rendah (69 dari 81 negara), yang mencerminkan perlunya penguatan kapasitas literasi tenaga pendidik.
Khusus guru mata pelajaran bahasa Indonesia, penelitian Anita Lie (2019) memiliki hasil memprihatinkan. Hampir separuh dari sampel guru bahasa Indonesia tidak bisa menulis tiga paragraf esai. Bahkan, masih ada guru yang tidak mengerti apa itu paragraf.
Johannes Sumardinata juga menyebutkan bahwa tidak sampai 0,5 persen guru bahasa Indonesia membaca tetralogi Pramoedya Ananta Toer. Data ini memang masih mentah. Mungkin saja guru tidak suka membaca karya Pramoedya Ananta Toer.
Namun, survei Badan Pusat Statistik (BPS) RI sendiri di tahun 2020 menunjukkan, hanya sekitar 10% penduduk Indonesia yang rajin membaca buku. Angka ini menunjukkan tingkat minat literasi yang rendah di kalangan masyarakat. Perlu berbagai upaya ekstra yang dilakukan semua pihak agar tradisi literasi di Indonesia terus meningkat.
Puncak Kemahiran
Literasi guru di Indonesia berfokus kepada peningkatan kompetensi profesional melalui penguasaan enam literasi dasar. Keenam literasi dasar itu meliputi baca-tulis, numerasi, sains, digital, finansial, dan budaya/kewargaan.
Artikel Terkait
Refleksi Peringatan Hari Guru Nasional 25 November 2024: Guru sebagai Pembiasa Tradisi Literasi
Mengenang 15 Tahun Wafatnya KH Abdurrahman Wahid: Gus Dur dan Tradisi Literasi