Dalam hal logika berketuhanan Ibrahim terkenal dalam logikanya terhadap bintang, bulan dan matahari. Dalam logika tauhid Ahlu Sunnah Wal Jamaah, logika ini merupakan penyelarasan antara pengetahuan batiniah dengan pengetahuan zahir. Artinya dalam pengetahuan makrifat batin Ibrahim sudah diketahui bahwa bulan, bintang, matahari bukanlah Tuhan dan itu dibenarkan melalui observasi rasionalnya. Para nabi dikarunai makrifat yang sempurna sehingga mustahil para nabi tak mengenal Tuhannya apalagi sampai menyembah benda-benda langit. Ibrahim disebut dalam Al Anbiya’ 51 memiliki rusydah kebenaran sempurna sehingga takkan mungkin menyembah selain Allah. Logika observasif inilah yang kemudian digunakan Ibrahim ketika berdebat dengan penyembah berhala dan bintang.
Dalam hal kebangsaan logika observasi ini penting agar nalar kita tidak ditumpulkan nalar adu domba. Logika yang berupaya mempertemukan aspek batin dengan logika kemasyarakatan agar kebangsaan kita mencapai titik maksimal. Kebangsaan yang melihat bahwa ada perbedaan dalam kehidupan kita namun tetap harus diobservasi menuju keimanan sempurna tanpa harus berpecah belah. Meski kita berbeda-beda, namun kita harus tetap ingat doa Ibrahim seperti yang tertuang dalam surat Ibrahim 40, “Du Pangeran kaula, gha-mogha Ajunan madhaddhi kaula-kaula sareng na’ poto kaula oreng se maddhek sholat”. Bahwa ada keturunan Ibrahim yang kafir seperti sebagian Bani Israil atau Kafir Quraisy itu memang kita akui sebagai realitas. Namun doa Ibrahim agar anak cucunya tetap menjadi orang beriman adalah idealitas yang harus tetap diperjuangkan.***
Penulis adalah warga Sumenep, Pemerhati Sejarah Agama-Politik-Kebudayaan.
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini!