sketsa

Dari Bahasa ke Budaya, Menjaga Identitas Indonesia dalam Arus Globalisasi

Senin, 27 Oktober 2025 | 07:25 WIB
Astatik Bestari (SketsaNusantara.id)

Menurut data Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbudristek (2024), penggunaan bahasa Indonesia di ranah digital meningkat secara signifikan dalam lima tahun terakhir. Kecenderungan ini menunjukkan bahwa generasi muda masih memiliki semangat untuk berbahasa Indonesia, terutama ketika mereka menemukan wadah ekspresi yang sesuai dengan gaya hidup modern. Fakta ini menjadi sinyal positif bahwa bahasa Indonesia masih memiliki daya hidup yang kuat, asalkan terus dikembangkan dan diberi ruang yang kreatif dalam kehidupan sehari-hari.

Selain itu, pemerintah juga telah menjalankan berbagai program untuk memperkuat kedudukan bahasa Indonesia. Gerakan Literasi Nasional, Bulan Bahasa, serta pelatihan penggunaan bahasa di ruang publik merupakan beberapa bentuk nyata upaya pelestarian. Namun, keberhasilan program tersebut sangat bergantung pada partisipasi aktif masyarakat. Bahasa akan tetap hidup jika digunakan, dihargai, dan dijaga oleh penuturnya. Karena itu, kesadaran individu menjadi kunci utama dalam menjaga eksistensi bahasa dan budaya Indonesia.

Baca Juga: Erick Thohir Terima Masukan dari Ultras Garuda, Janji Perkuat Sinergi demi Masa Depan Sepak Bola Indonesia

Bahasa Indonesia bukan hanya alat komunikasi, melainkan simbol kedaulatan dan persatuan. Ia menandai siapa kita sebagai bangsa, dari mana kita berasal, dan ke mana arah langkah kita menuju masa depan. Di tengah derasnya arus globalisasi, bahasa dan budaya Indonesia seharusnya tidak dianggap beban tradisi, tetapi sumber kebanggaan dan kekuatan moral bangsa. Bahasa adalah wajah bangsa. Ketika kita menjaga bahasanya, kita sedang menjaga martabat dan peradaban bangsa itu sendiri.

Oleh karena itu, sudah saatnya kita memperlakukan bahasa Indonesia bukan hanya sebagai alat komunikasi, melainkan sebagai identitas yang perlu dirawat dengan cinta. Di tengah dunia yang terus berubah, mari menjadi generasi yang modern tanpa kehilangan akar budaya. Kita bisa menjadi warga dunia yang terbuka, tanpa harus kehilangan kebanggaan sebagai orang Indonesia. Sebab, bahasa dan budaya Indonesia bukan sekadar peninggalan masa lalu, tetapi kompas moral yang menuntun kita menatap masa depan dengan percaya diri, bermartabat, dan berkarakter.***

*Pegiat Pendidikan Nonformal dan Informal; Ketua 2 DPP ASTINA (Asosiasi Tutor Pendidikan Kesetaraan Nasional), Ketua bidang Peningkatan Mutu PTK DPW FK-PKBM Jatim, LP Ma'arif PCNU Jombang bidang PNF

Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI!  

Halaman:

Tags

Terkini

Jangan Biarkan Kota Santri Kehilangan Jati Diri

Jumat, 26 Juni 2026 | 09:40 WIB

Sistem Keulamaan dan Ahwa Permanen dalam NU

Selasa, 16 Juni 2026 | 16:49 WIB

Refleksi Hardiknas 2026: Pendidikan dan Buku

Jumat, 1 Mei 2026 | 16:35 WIB

Menimbang Dampak AI pada Nalar Generasi Bangsa

Kamis, 30 April 2026 | 12:05 WIB

Guru Pejuang Literasi

Selasa, 7 April 2026 | 10:35 WIB

Ketika Inklusi Berubah Menjadi Eksploitasi

Selasa, 24 Maret 2026 | 14:35 WIB

Idul Fitri dan Momentum Transformasi Digital UMKM

Kamis, 19 Maret 2026 | 13:30 WIB

Gus Dur, Cina dan Islam

Kamis, 19 Februari 2026 | 21:25 WIB