Oleh: Mukani*
SketsaNusantara.id - Perjuangan kemerdekaan Indonesia merupakan rentetan sejarah panjang melawan kolonial. Tentu perjuangan itu meninggalkan banyak jejak, termasuk di wilayah Jombang. Salah satunya lokasi yang sekarang berdiri SMAN 1 Jombang. Sejarah panjang mengiringi lokasi ini, mulai menjadi kantor asisten residen (AR) Belanda, markas militer Resimen 32 hingga berdiri sekolah.
Pusat Pemerintahan
Foto di atas diambil tahun 1932 saat AR Belanda di Jombang dijabat WS Bitter, menggantikan M Ia Fontaine. Sebelumnya dia bertugas menjadi AR di Pekalongan Jawa Tengah. Dalam foto terlihat dia menerima kunjungan EW Maurenbrecher, temannya yang bertugas menjadi AR di Magelang. Maurenbrecher inilah yang menemukan Prasasti Kamalagi tahun 1929. Lokasinya berada di Desa Tegalsari Kecamatan Candimulyo Magelang.
Bangunan kantor AR Jombang juga difungsikan sebagai rumah dinas. Pembangunan itu dimulai saat wilayah Jombang berdiri sendiri, yang sebelumnya menjadi satu AR dengan Mojokerto sejak 1819. Wilayah Jombang membawahi tiga afdeling (selevel kawedanan), yaitu Mojorejo (kota dan bagian barat), Mojoagung (bagian timur dan selatan) dan Mojodadi (utara Kali Brantas). Hal ini termaktub dalam Staatsblad van Nederlandsch-Indie Nomor 90 tanggal 20 Maret 1881, yang memisahkan wilayah AR Jombang dari AR Mojokerto.
Baca Juga: Dari Bedah Buku Fragmen Sejarah Jombang, Binhad Nurrohmat: Soekarno Lahir di Jombang...
Meski demikian, kedua AR masih dalam Karesidenan Surabaya bersama afdeeling Sidoarjo, Gresik, Sedayu, Surabaya, Lamongan dan Bawean. AR Jombang periode pertama dijabat CM Ketting Olivier sejak 29 Maret 1881. Dia didampingi pimpinan bumiputra (pribumi) seorang patih bernama Raden Pandji Tjondro Winoto sejak 30 April 1881. Posisi inilah sebagai cikal bakal pemimpin Kabupaten Jombang di kemudian hari.
Harian Jawa Pos Radar Jombang edisi 24 Juli 2023 menulis bahwa kantor AR Jombang pada awalnya berada di Djombangstraat, sekarang Jalan Ahmad Yani, yang sebelumnya kediaman pejabat Distrik Mojorejo. Seiring perkembangan penduduk dan kebutuhan Belanda di Jombang, tanggal 1 Agustus 1881 dibuka tender pembangunan beberapa fasilitas. Di antaranya adalah pembangunan rumah AR Jombang senilai f 41.536 (gulden), kantor AR senilai f 24.969 (gulden) dan bangunan penjara berkapasitas 130 orang senilai f 52.939 (gulden).
Lokasi pembangunan menempati tanah luas di sisi utara jalur rel kereta api SS jurusan Mojokerto-Sembung yang sudah dibuka sejak 27 Februari 1881. Persisnya di utara Halte Kaliwoengoe yang kelak menjadi Stasiun Jombang. Penataan “kota baru” Jombang juga dilengkapi kantor pusat pemerintahan, alun-alun, taman hutan kota, tempat ibadah (masjid dan gereja), sekolah, bank, gedung pertemuan (societeit), rumah sakit, pasar, gudang garam, kantor pos dan telegram serta sarana lainnya.
Lokasi kantor AR Jombang yang sekarang berdiri gedung SMAN 1 Jombang ini juga diidentifikasi sebagai titik nol wilayah Jombang. Berdasar telaah peta tahun 1892, terlihat jelas penanda satuan metrologis itu tepat berada di depan rumah dinas AR utara alun-alun Jombang. Ini berbeda dengan waktu 1881-1888 saat rumah AR masih berada di Djombangstraat. Dalam peta 1884, pal titik nol juga berada di depan rumah AR lama.
Sebenarnya pal titik nol ini masih ada. Namun saat pasukan Belanda hendak meninggalkan Jombang karena kalah dari Jepang awal 1942, pal dan tugu-tugu itu dihancurkan. Konon hal ini dilakukan untuk mengacaukan pentingnya jarak dan pedoman arah sebuah lokasi strategis. Meski, menurut Tjahjana Indra Kusuma (2024), pal titik nol juga digunakan untuk menentukan besar biaya ongkos perjalanan.
Markas Militer
Resimen 32 adalah nama resmi untuk kesatuan Badan Keamanan Rakyat (BKR) Jombang. Tugasnya meliputi wilayah Jombang, Nganjuk, Gresik, Surabaya dan Ngimbang (Lamongan). Saat itu, Resimen 32 dipimpin Letkol R Kretarto. Kelak resimen ini, mengutip M Fathoni Mahsun dalam buku Perang Jombang (2020), menjadi cikal bakal Kodim 0814/Jombang.