SketsaNusantara.id - Puluhan artikel bertumpuk di kotak surel menunggu giliran diperiksa. Setiap judul terasa mendesak, seolah meminta dibereskan segera. Di layar, huruf-huruf berlarian, dan di sudut meja, secangkir kopi pagi sudah kehilangan hangatnya.
Tiba-tiba sebuah notifikasi muncul di layar ponsel. Seorang kawan editor meminta untuk cek di tautan yang ia berikan. Rupanya, lini masa sedang ramai, percakapan liar meletup di media sosial.
Promedia Teknologi Indonesia, rumah bagi para jurnalis dan Content Creator (CC), jadi sasaran makian. Tuduhan datang bertubi-tubi, menyebut perusahaan ini hanya membayar penulis dengan upah yang bahkan tak cukup untuk ongkos parkir.
Baca Juga: Mediapreneur Talks Banten: Promedia Ajak Jurnalis Hadapi Era Disrupsi Informasi
Dalam hitungan menit, ketenangan yang biasa mengiringi pekerjaan itu berubah menjadi riuh tak keruan.
Ironi Penulis yang Gagal Membaca
Promedia Teknologi Indonesia berdiri sebagai rumah besar ekosistem jurnalisme digital di Indonesia. Di bawah naungannya, berbagai media daring, reporter, hingga CC berjejaring bekerja sama untuk menghidupkan industri media.
Sebuah jaringan yang luas, dengan misi untuk memajukan jurnalisme Indonesia ke tingkat yang lebih tinggi: Expanding Universe, The Future of Digital Media Ecosystem.
Namun, serangan di linimasa itu menunjukkan betapa sebagian orang yang ingin jadi penulis justru enggan menjadi pembaca.
Padahal, Promedia sejak awal sudah sangat jelas, yakni sebagai perusahaan teknologi media, dan hanya memfasilitasi mitra-mitra medianya.
Para penulis atau CC bekerja untuk media mitra itu, bukan untuk Promedia secara langsung. Ada yang berbasis performa (traffic), ada yang dengan gaji tetap, masing-masing sepenuhnya kebijakan media yang ditempati.
Semua sudah dipaparkan tuntas saat seleksi awal di tahap penjelasan konsep bisnis, bahkan disampaikan berulang-ulang. Namun rupanya, banyak yang lebih cepat membuat kesimpulan daripada membaca. Banyak yang lebih cepat marah daripada memeriksa.
Ironi ini terlalu telanjang. Mereka yang ingin dikenal sebagai penulis, ternyata tak mau membaca.