Menurutnya, pernyataan Fadli Zon terlihat sebagai penyangkalan ganda demi menghindari rasa bersalah, malu atau tidak nyaman pada pemerintah.
Pertama, penolakan langsung terhadap fakta dengan menyebutkan perkosaan massal pada Kerusuhan Mei 1998 adalah rumor.
Dan kedua, penyangkalan interpretatif Fadli Zon yang mengakui fakta Kerusuhan Mei 1998, namun menafsirkan secara berbeda dengan tone positif.
Penulis sepaham dengan Usman Hamid, bahwa penyangkalan atas pemerkosaan massal yang dialami sebagian besar oleh perempuan etnis Tionghoa justru akan memecah belah kesatuan bangsa.
Atau jangan-jangan, benar kata Usman Hamid bahwa pernyataan Fadli Zon merupakan penyangkalan atas rekomendasi kedua TGPF yang menyebutkan nama petinggi pemerintah sekarang: Syafrie Syamsoeddin dan Prabowo Subianto.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini!