sketsa

Tragedi Sukatani: Ketika Band Punk Minta Maaf kepada Polisi yang Baik Hati

Jumat, 21 Februari 2025 | 07:00 WIB
Klaridikasi band Sukatani. Ada dugaan pembungkaman terhadap praktik berkesenian. (Instagram/sukatani.band)

SketsaNusantara.id - Institusi kepolisian lagi-lagi jadi sorotan publik setelah warganet digegerkan dengan kabar dugaan pembungkaman kebebasan berekspresi terkait kritik terhadap lembaga tersebut.

Sementara itu, band Post-Punk asal Purbalingga, Sukatani, mendapatkan dukungan dari warganet dan sesama seniman setelah lagunya berjudul "Bayar Bayar Bayar" dihapus dari semua platform digital.

Lirik lagu tersebut diduga telah menyinggung institusi kepolisian sehingga band yang beranggotakan 2 orang itu harus meminta maaf dan melakukan klarifikasi di akun media sosialnya.

Baca Juga: Sama-Sama Ciptakan Karya Lagu Tentang Polisi Tanah Air! Ramai Band Sukatani Dibandingkan dengan Slank, Netizen: Penjilat

Mirisnya lagi, mereka berdua tampil dalam video permintaan maaf yang diunggah di akun resmi media sosial tanpa mengenakan topeng yang selama ini menjadi pilihan eksistensi dalam bermusik.

Topeng yang dikenakan oleh seniman, lazimnya merupakan pilihan beridentitas secara anonim yang dapat dimaknai sebagai perlawanan terhadap konsep selebritas dan kultus individu.

Bagi yang sudah akrab atau bahkan menghayati subkultur, terutama di skena musik, pemakaian topeng atau atribut sebagai tabir "identitas asli" bukanlah hal yang aneh.

Baca Juga: Makna Kode 1312 ACAB yang Bertebaran di Tengah Huru Hara Lenyapnya Lagu Band Sukatani, Sampai Misteri Pesan Berantai Gegara Dituding Senggol Polisi

Alih-alih menganggapnya sebagai gimmick belaka, tidak sedikit yang diam-diam menghormati simbol anonimitas itu dan menghargainya sebagai sikap kedaulatan berekspresi.

Dalam subkultur Punk, individualisme dan egalitarianisme sangat dijunjung tinggi. Dengan mengenakan topeng dan menolak perayaan popularitas, mereka mengalihkan perhatian dari sosok pribadi ke pesan yang disampaikan.

Tampil di hadapan publik dengan identitas yang sama ketika sedang mengenakan simbol anonimitas (secara mendadak apalagi terpaksa) merupakan hal tabu dan bisa dibilang semacam mencoreng harga diri. Terlebih lagi, jika keterpaksaan itu diduga akibat hasil intimidasi.

Baca Juga: Lirik Lagu Bayar Bayar Bayar Karya Band Sukatani yang Tengah Tuai Kontroversi, Mendadak Hilang Jejak Karyanya Buntut Diduga Sindir Profesi Polisi

Dari situlah muncul poin penting yang meyinggung serangkaian pertanyaan dan pernyataan menyebalkan semacam "Punk kok klarifikasi?" atau "Punk kok minta maaf?".

"Punk kok Klarifikasi(?)"

Halaman:

Tags

Terkini

Jangan Biarkan Kota Santri Kehilangan Jati Diri

Jumat, 26 Juni 2026 | 09:40 WIB

Sistem Keulamaan dan Ahwa Permanen dalam NU

Selasa, 16 Juni 2026 | 16:49 WIB

Refleksi Hardiknas 2026: Pendidikan dan Buku

Jumat, 1 Mei 2026 | 16:35 WIB

Menimbang Dampak AI pada Nalar Generasi Bangsa

Kamis, 30 April 2026 | 12:05 WIB

Guru Pejuang Literasi

Selasa, 7 April 2026 | 10:35 WIB

Ketika Inklusi Berubah Menjadi Eksploitasi

Selasa, 24 Maret 2026 | 14:35 WIB

Idul Fitri dan Momentum Transformasi Digital UMKM

Kamis, 19 Maret 2026 | 13:30 WIB

Gus Dur, Cina dan Islam

Kamis, 19 Februari 2026 | 21:25 WIB