Kamis, 4 Juni 2026

Tiga Srikandi dalam Pertarungan Pilgub Jatim 2024: Bukti Nyata Kepemimpinan Tidak Terbatas Gender

Photo Author
Tim Redaksi Sketsa Nusantara, Sketsa Nusantara
- Jumat, 8 November 2024 | 09:41 WIB
Isna Asaroh, Ketua PC KOPRI Jember
Isna Asaroh, Ketua PC KOPRI Jember

Selanjutnya, pemilihan gubernur secara langsung juga memungkinkan adanya respons yang lebih cepat terhadap aspirasi rakyat, dalam hal ini, pemimpin yang terpilih memiliki tanggung jawab langsung kepada konstituen mereka, sehingga mereka lebih termotivasi untuk memenuhi janji kampanye dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Dalam konteks Pilgub Jawa Timur, ada satu hal menarik dalam penyelenggaraannya dimana melibatkan tiga pasangan calon perempuan, yang dikenal sebagai "Tiga Srikandi Jatim".

Baca Juga: 3 Srikandi di Pilgub Jawa Timur 2024, Petahana Khofifah Indar Parawansa-Emil Dardak Siap Hadapi Paslon PKB dan PDIP

Kehadiran tiga calon perempuan (Khofifah Indar Parawansa, Tri Rismaharini, dan Luluk Nur Hamidah) dalam Pilgub Jawa Timur 2024 membawa dinamika baru dalam proses demokrasi.

Pilgub yang melibatkan tiga calon perempuan ini menciptakan momentum untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai isu gender dan keterwakilan perempuan dalam politik.

Apalagi kemampuan ketiganya dalam adu ide, gagasan, dan program telah menunjukkan sebuah pandangan nyata bahwa kepemimpinan itu didasarkan atas kemampuan dan pengetahuan individu, bukan lagi pada gendernya.

Baca Juga: Jadwal Lengkap Debat Pilgub Jatim 2024, Adu Gagasan Srikandi Jawa Timur Perdana Malam ini

Kehadiran tiga calon perempuan dalam Pilgub Jawa Timur 2024 telah menarik perhatian dan memicu respons beragam dari masyarakat.

Masyarakat Jatim menunjukkan penerimaan yang positif terhadap fenomena tiga calon perempuan ini. Bahkan, banyak yang menganggapnya sebagai langkah maju menyoal kesetaraan gender di bidang politik.

Pakar politik seperti Surokim Abdussalam menilai bahwa kepemimpinan perempuan di Jatim sudah tidak lagi menjadi masalah, dan masyarakat kini lebih mampu membedakan antara kepemimpinan agama dan politik.

Baca Juga: Sosok Perempuan Terjun Politik, Inilah Perbandingan Peta Politik Tiga Srikandi Jawa Timur pada Pilkada 2024

Lebih lanjut, kehadiran calon perempuan juga dapat mendorong lebih banyak perempuan untuk berpartisipasi dalam pemilu, baik sebagai pemilih maupun calon legislatif di masa depan.

Ini merupakan langkah positif menuju kesetaraan gender dalam politik, meskipun tantangan tetap ada dalam hal stigma kultural dan sumber daya finansial.

Dengan kehadiran tiga tokoh perempuan yang kompeten bertarung dalam Pilgub, mereka dapat menjadi inspirasi bagi generasi mendatang untuk terlibat dalam politik. Ini menunjukkan bahwa perempuan memiliki kapasitas untuk memimpin dan berkontribusi secara signifikan dalam pemerintahan.

Baca Juga: KPU Jawa Timur Gelar Rapat Koordinasi Pengelolaan Logistik Pilkada 2024 di Pasuruan

Halaman:

Editor: Siti Nurlaela Hanifah

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Refleksi Hardiknas 2026: Pendidikan dan Buku

Jumat, 1 Mei 2026 | 16:35 WIB

Menimbang Dampak AI pada Nalar Generasi Bangsa

Kamis, 30 April 2026 | 12:05 WIB

Guru Pejuang Literasi

Selasa, 7 April 2026 | 10:35 WIB

Ketika Inklusi Berubah Menjadi Eksploitasi

Selasa, 24 Maret 2026 | 14:35 WIB

Idul Fitri dan Momentum Transformasi Digital UMKM

Kamis, 19 Maret 2026 | 13:30 WIB

Gus Dur, Cina dan Islam

Kamis, 19 Februari 2026 | 21:25 WIB

Kiprah Kiai Kampung Memajukan Nusantara

Kamis, 5 Februari 2026 | 17:35 WIB

Kebijakan Kuota Haji: Adakah Pelanggarannya?

Senin, 26 Januari 2026 | 09:14 WIB
X