Minggu, 19 Juli 2026

Fenomena 'Career Cushioning' Marak di Kalangan Karyawan

Photo Author
Tim Redaksi Sketsa Nusantara, Sketsa Nusantara
- Sabtu, 7 September 2024 | 06:00 WIB
Ilustrasi Career cushioning atau karyawan aktif yang mencari kerja untuk antisipasi (Freepik/yanalya)
Ilustrasi Career cushioning atau karyawan aktif yang mencari kerja untuk antisipasi (Freepik/yanalya)

63 persen responden meyakini bahwa Career Cushioning dapat mempercepat pencarian pekerjaan mereka.

Karyawan yang melakukan praktik Career Cushioning merasa lebih percaya diri di tengah volatilitas pasar kerja.

Baca Juga: Perkuat Penyampaian Kualitas Informasi Publik, Bawaslu Gresik Hadiri Rakernis Optimalkan Pengelolaan Website dan Pemberitaan

Taktik Career Cushioning yang paling populer dilakukan oleh karyawan, yaitu melamar pekerjaan lain (47 persen) dan mengikuti pelatihan atau keterampilan (42 persen).

Organisasi perusahaan, perlu memahami bahwa Career Cushioning adalah fenomena yang tidak bisa dihindari.

Langkah yang bisa diambil perusahaan dalam merespons karyawannya yang melakukan Career Cushioning mencakup beberapa hal.

Baca Juga: Said Didu Bongkar Sisi Lain Rocky Gerung Usai Ramai Debat Panas dengan Silfester: Semua Sudut Rumah Isinya...

Di antaranya adalah menjaga komunikasi terbuka dengan karyawan untuk membahas aspirasi, kekhawatiran, dan jalur karier.

Langkah lainnya adalah berinvestasi dalam pengembangan karyawan melalui peningkatan keterampilan.

Career Cushioning kini menjadi sangat penting bagi karyawan di tengah ketidakpastian ekonomi.

Career Cushioning tidak hanya membantu mengurangi risiko kehilangan pekerjaan secara tiba-tiba, tetapi juga memungkinkan para profesional untuk membangun jaringan yang berharga dan meningkatkan keterampilan mereka.***

* Penulis adalah Staf Ahli Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Mendes PDTT) Bidang Hubungan Antar Lembaga.

Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini! 

Halaman:

Editor: Siti Nurlaela Hanifah

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Jangan Biarkan Kota Santri Kehilangan Jati Diri

Jumat, 26 Juni 2026 | 09:40 WIB

Sistem Keulamaan dan Ahwa Permanen dalam NU

Selasa, 16 Juni 2026 | 16:49 WIB

Refleksi Hardiknas 2026: Pendidikan dan Buku

Jumat, 1 Mei 2026 | 16:35 WIB

Menimbang Dampak AI pada Nalar Generasi Bangsa

Kamis, 30 April 2026 | 12:05 WIB

Guru Pejuang Literasi

Selasa, 7 April 2026 | 10:35 WIB

Ketika Inklusi Berubah Menjadi Eksploitasi

Selasa, 24 Maret 2026 | 14:35 WIB

Idul Fitri dan Momentum Transformasi Digital UMKM

Kamis, 19 Maret 2026 | 13:30 WIB

Gus Dur, Cina dan Islam

Kamis, 19 Februari 2026 | 21:25 WIB
X