Kamis, 4 Juni 2026

Falsafah Jawa Ini Sudah Ratusan Tahun Mengingatkan Bahaya Pemimpin yang Mudah Terpengaruh oleh Para Penjilat di Sekelilingnya

Photo Author
Boy Nugroho, Sketsa Nusantara
- Kamis, 4 Juni 2026 | 11:30 WIB
Ilustrasi Sabda Padhita Ratu. (Pexels/kevin yung)
Ilustrasi Sabda Padhita Ratu. (Pexels/kevin yung)

SketsaNusantara.id - Dalam tradisi Jawa, kepemimpinan tidak hanya diukur dari kekuasaan. Seorang pemimpin juga dinilai dari kemampuannya menjaga ucapan, keputusan, dan keteguhan sikap dalam menghadapi berbagai pengaruh.

Masyarakat Jawa sejak lama mengenal berbagai falsafah yang berkaitan dengan kepemimpinan. Petuah tersebut diwariskan turun-temurun sebagai pedoman moral bagi mereka yang memegang amanah dan tanggung jawab terhadap banyak orang.

Salah satu falsafah yang paling dikenal adalah Sabda Pandhita Ratu Tan Kena Wola-Wali. Ungkapan ini masih sering dikutip ketika membahas kualitas seorang pemimpin, baik dalam pemerintahan maupun kehidupan sehari-hari.

Baca Juga: 'Ojo Kemajon' Falsafah Jawa yang Diajarkan Jokowi Terhadap Gibran dalam Mendampingi Presiden Prabowo Subianto, Ini Artinya...

Secara harfiah, ungkapan tersebut dapat dimaknai bahwa ucapan seorang pemimpin tidak boleh berubah-ubah. Dalam budaya Jawa, seorang pemimpin ideal diharapkan mampu menjaga konsistensi antara perkataan, keputusan, dan tindakan.

Falsafah ini tidak hanya berbicara tentang janji. Maknanya juga berkaitan dengan kemampuan seorang pemimpin untuk tidak mudah terpengaruh oleh tekanan, hasutan, atau kepentingan sesaat yang dapat mengubah keputusan yang telah ditetapkan.

Dikutip dari buku Sabda Pandhita Ratu karya Sujamto yang terbit tahun 1991, dijelaskan bahwa ungkapan Sabda Pandhita Ratu Tan Kena Wola-Wali mengajarkan pemimpin agar konsekuen terhadap apa yang telah diucapkannya. Konsep tersebut dikaitkan dengan sifat menepati janji dan menjaga kepercayaan masyarakat.

Baca Juga: Arti Datan Serik Lamun Ketaman, Datan Susah Lamun Kelangan, Falsafah Jawa Ajaran Sunan Kalijaga

Di dalam pandangan Jawa, ketidakkonsistenan pemimpin dapat menimbulkan keraguan dari masyarakat. Ketika keputusan berubah terlalu sering tanpa dasar yang jelas, kepercayaan publik berpotensi berkurang.

Falsafah tersebut sering dipahami sebagai peringatan agar pemimpin tidak bersikap mencla-mencle. Istilah ini dalam budaya Jawa merujuk pada sikap yang mudah berubah pendirian atau mengikuti pengaruh yang datang dari berbagai arah.

Makna yang lebih luas juga terlihat dalam berbagai kajian kepemimpinan Jawa. Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal ilmiah Universitas Syiah Kuala menjelaskan bahwa prinsip Sabda Pandhita Ratu merupakan salah satu landasan etika kepemimpinan Jawa.

Pelanggaran terhadap prinsip tersebut digambarkan dapat menimbulkan konsekuensi negatif terhadap integritas seorang pemimpin.

Dalam praktiknya, falsafah ini mengajarkan bahwa seorang pemimpin harus memiliki pertimbangan yang matang sebelum mengambil keputusan. Setelah keputusan dibuat, ia diharapkan mampu mempertanggungjawabkannya secara konsisten.

Ajaran tersebut juga berkaitan dengan konsep "Bawa Laksana. Dalam tradisi Jawa, konsep ini menggambarkan kesatuan antara kata dan perbuatan. Apa yang diucapkan harus selaras dengan tindakan yang dilakukan.

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Refleksi Hardiknas 2026: Pendidikan dan Buku

Jumat, 1 Mei 2026 | 16:35 WIB

Menimbang Dampak AI pada Nalar Generasi Bangsa

Kamis, 30 April 2026 | 12:05 WIB

Guru Pejuang Literasi

Selasa, 7 April 2026 | 10:35 WIB

Ketika Inklusi Berubah Menjadi Eksploitasi

Selasa, 24 Maret 2026 | 14:35 WIB

Idul Fitri dan Momentum Transformasi Digital UMKM

Kamis, 19 Maret 2026 | 13:30 WIB

Gus Dur, Cina dan Islam

Kamis, 19 Februari 2026 | 21:25 WIB

Kiprah Kiai Kampung Memajukan Nusantara

Kamis, 5 Februari 2026 | 17:35 WIB

Kebijakan Kuota Haji: Adakah Pelanggarannya?

Senin, 26 Januari 2026 | 09:14 WIB
X