Minggu, 19 Juli 2026

Mengaktualisasikan Jati Diri Perempuan: Memutus Rantai Bias Gender dari Rumah

Photo Author
Tim Redaksi Sketsa Nusantara, Sketsa Nusantara
- Jumat, 6 Maret 2026 | 21:35 WIB
Astatik Bestari (SketsaNusantara.id)
Astatik Bestari (SketsaNusantara.id)

Ibu bukan sekadar pengasuh fisik, melainkan agen perubahan yang paling strategis dalam membentuk kesadaran gender anak. Ibu memiliki kendali atas narasi yang didengar anak setiap hari. Untuk memutus siklus bias gender ini, diperlukan langkah konkret:

Baca Juga: Setiap 9 Maret Dirayakan, Sejarah WR Soepratman Justru Diperdebatkan, Benarkah Hari Musik Nasional Berdasarkan Tanggal Keliru?

  1. Adanya penyetaraan tugas domestik. Anak diberi tanggung jawab rumah tangga berdasarkan usia, bukan jenis kelamin. Orang tua memastikan anak laki-laki mampu memasak dan membersihkan rumah, sebagaimana anak perempuan didorong untuk memiliki ketegasan dan keterampilan teknis.
  2. Perlunya standardisasi disiplin. Jangan memberikan kelonggaran aturan kepada anak laki-laki atas kesalahan yang dilarang bagi anak perempuan. Keadilan aturan akan melahirkan rasa respek yang tulus antar saudara.
  3. Perlunya literasi emosi. Berhenti melarang anak laki-laki menangis. Anak laki-laki yang mengenal emosinya akan tumbuh menjadi pribadi yang mampu berempati terhadap orang lain. Sebaliknya, dukung anak perempuan untuk berani bersuara dan mengambil keputusan.
  4. Adanya keteladanan relasi. Anak adalah peniru ulung. Mereka belajar tentang rasa hormat dengan melihat bagaimana ibu dan ayah berinteraksi sebagai mitra yang setara dalam mengambil keputusan keluarga.

Pesan untuk Mahasiswa dan Masyarakat Umum

Peran ibu memang signifikan, tapi upaya ini membutuhkan sinergi dari sistem yang lebih luas. Bagi para mahasiswa, aktivis pergerakan, dan masyarakat umum, normalisasi seksisme harus dihentikan. Di lingkungan kampus maupun organisasi, jangan biarkan pelecehan atau perendahan terhadap salah satu gender dianggap sebagai lelucon.

Baca Juga: Resmi! Menkomdigi Akan Blokir Akun Anak di Bawah 16 Tahun Pada 8 Platform Digital Ini per 28 Maret 2026

Aktualisasi jati diri perempuan bukan tentang upaya mendominasi pihak lain, melainkan tentang hak untuk dihargai sebagai mitra manusia yang utuh. Laki-laki yang terhormat adalah mereka yang mampu menghargai perempuan sebagai rekan sepadan, dan perempuan yang bermartabat adalah mereka yang berani bersikap tegas menetapkan batasan.

Hari Perempuan Sedunia harus menjadi pengingat bahwa perubahan besar tidak selalu dimulai dari podium pidato kenegaraan. Ia sering kali dimulai dari dapur, ruang tamu, dan pola asuh yang adil di rumah. Jika kita ingin mencetak generasi yang saling menghargai, maka ibu harus menjadi garda terdepan dalam meruntuhkan dinding-dinding bias tersebut. Mari kita kembalikan kehormatan kemanusiaan dengan mendidik anak-anak kita dalam keadilan sejak dalam pikiran.***

*Pegiat Pendidikan Nonformal dan Informal; Ketua 2 DPP ASTINA (Asosiasi Tutor Pendidikan Kesetaraan Nasional), Ketua bidang Peningkatan Mutu PTK DPW FK-PKBM Jatim, LP Ma'arif PCNU Jombang bidang PNF

Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara. Di sini. KLIK DI SINI!

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Jangan Biarkan Kota Santri Kehilangan Jati Diri

Jumat, 26 Juni 2026 | 09:40 WIB

Sistem Keulamaan dan Ahwa Permanen dalam NU

Selasa, 16 Juni 2026 | 16:49 WIB

Refleksi Hardiknas 2026: Pendidikan dan Buku

Jumat, 1 Mei 2026 | 16:35 WIB

Menimbang Dampak AI pada Nalar Generasi Bangsa

Kamis, 30 April 2026 | 12:05 WIB

Guru Pejuang Literasi

Selasa, 7 April 2026 | 10:35 WIB

Ketika Inklusi Berubah Menjadi Eksploitasi

Selasa, 24 Maret 2026 | 14:35 WIB

Idul Fitri dan Momentum Transformasi Digital UMKM

Kamis, 19 Maret 2026 | 13:30 WIB

Gus Dur, Cina dan Islam

Kamis, 19 Februari 2026 | 21:25 WIB
X