Oleh: Astatik Bestari*
SketsaNusantara.id - Setiap tanggal 8 Maret, dunia memperingati Hari Perempuan Sedunia. Ruang publik sejak lama ramai dengan tuntutan perubahan sistemik, mulai dari kebijakan upah yang adil hingga perlindungan hukum terhadap kekerasan. Namun, ada satu wilayah yang sering luput dari percakapan besar ini, padahal di sanalah watak peradaban dibentuk. Iya, ruang domestik bernama keluarga.
Sebagai pendidik dan penulis, saya melihat bahwa aktualisasi jati diri perempuan tidak akan pernah tuntas jika kita masih memelihara bibit ketimpangan di rumah sendiri.
Masalah kekerasan dan ketimpangan gender bukan fenomena yang jatuh dari langit, melainkan hasil dari pola asuh yang bias selama berpuluh-puluh tahun. Rumah adalah sekolah pertama bagi anak untuk mempelajari tentang relasi kuasa. Ketika seorang ibu membedakan perlakuan antara anak laki-laki dan perempuan, ia sebenarnya sedang menanamkan benih ketidakadilan yang akan dibawa anak tersebut hingga dewasa.
Jebakan Tradisi dan Standar Ganda
Di banyak keluarga, pekerjaan domestik masih dianggap sebagai wilayah perempuan. Anak perempuan sejak kecil dilatih untuk mencuci, menyapu, dan melayani anggota keluarga lainnya. Sebaliknya, anak laki-laki sering kali dibiarkan bebas tanpa tanggung jawab domestik yang setara. Pembiaran ini menciptakan ilusi hak istimewa (privilege) pada anak laki-laki yang membuat mereka tumbuh menjadi pribadi yang tidak mandiri dalam mengurus diri sendiri.
Dampaknya sangat serius. Tanpa didikan empati dan kemandirian sejak dini, laki-laki berisiko tumbuh dengan pola pikir bahwa perempuan adalah instrumen pendukung kenyamanan mereka. Ketidakmampuan menghargai perempuan sebagai mitra setara inilah yang kemudian menjelma menjadi perilaku diskriminatif, pelecehan, hingga kekerasan dalam rumah tangga.
Di sisi lain, anak perempuan yang terbiasa dididik untuk melayani akan tumbuh menjadi pribadi yang sulit menetapkan batasan diri. Mereka cenderung memikul beban ganda (double burden) saat memasuki dunia kerja, karena masih merasa harus menanggung seluruh beban domestik sendirian. Tradisi yang dianggap wajar ini sebenarnya adalah penjara bagi potensi kedua belah pihak.
Meluruskan Narasi Teologis
Kritik sering kali datang dengan dalih bahwa memperjuangkan kesetaraan akan merusak tatanan keluarga. Namun, sebagai masyarakat yang religius, kita harus melihat kembali ajaran luhur agama. Al-Qur'an Surah Al-Hujurat ayat 13 menegaskan bahwa tidak ada kelebihan satu manusia atas manusia lain kecuali karena ketakwaannya—bukan jenis kelaminnya.
Rasulullah SAW sendiri adalah teladan nyata dalam kemandirian domestik. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Ibn Hibban, Aisyah RA istri Nabi menyebutkan bahwa beliau menjahit sandalnya sendiri dan membantu pekerjaan keluarganya di rumah. Jika pemimpin agung saja melakukannya, maka tidak ada alasan bagi seorang laki-laki untuk merasa rendah martabatnya saat harus mencuci piring atau mengurus rumah tangga. Nilai saling menghargai adalah manifestasi nyata dari kemitraan yang diperintahkan dalam Surah At-Taubah ayat 71.
Ibu sebagai Arsitek Perubahan Karakter
Artikel Terkait
Aurelie Moeremans Gelar Gender Reveal Anak Pertama, Intimate Bareng Suami dan Keluarga Besar
Miss Universe: Standar Terukur, Rekam Jejak Keluarga, dan Figur Inspiratif
Menyingkap Tabir Urgensi Peran Perempuan dan Bahaya Laten Pola Pikir Misogini
Pengakuan yang Tertunda: Mengapresiasi Keberanian Marsinah dalam Perspektif Baru