Oleh: Mukani
SketsaNusantara.id- Istilah kiai kampung dikenalkan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) saat masih menjabat sebagai Presiden Keempat RI. Keberadaan kiai kampung, menurutnya, merupakan sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan politik yang sedang dibangun bangsa Indonesia. Menurut Gus Dur (2007), kiai kampung adalah sosok ulama yang berada di jantung masyarakat, memahami secara langsung kondisi, dinamika dan kebutuhan rakyat di akar rumput, meskipun seringkali tidak menonjol atau tidak banyak terlihat di media massa dan tanpa banyak sensasi.
Mereka selalu dekat dengan umat, berprinsip kuat yang selalu netral dan merangkul serta merupakan aset NU kultural yang sangat mahal. Gus Dur melihat kiai kampung sebagai fondasi sejati keagamaan NU di tingkat lokal, yang lebih relevan dalam memahami dan melayani kebutuhan riil masyarakat daripada figur-figur yang terlalu banyak muncul di permukaan.
Lima Pendekatan
Dalam perspektif politik, menurut Turhan Yani (2024), Gus Dur adalah orang pertama yang mempopulerkan peran penting kiai kampung dalam perpolitikan pada era reformasi, selain istilah kiai khos. Dalam perjalanan politik Gus Dur sampai menjadi Presiden RI, tidak lepas dari peran penting kiai khos dan kiai kampung juga.
Menurut Akhmad Sururi (2023), ada beberapa alasan istilah kiai kampung digunakan. Pertama, kampung itu bisa diistilahkan desa, lebih kecil lagi dusun atau dukuh. Jadi secara geografis kiai kampung tinggal di pedesaan yang jarang tersentuh dengan budaya metropolis atau kultur kota yang kemewahanya menjadi kecenderungan utama.
Kedua, kiai kampung adalah tokoh agama yang menjadi panutan dalam kehidupan. Orang mau pindah rumah, hajatan, bangun rumah, semua minta harinya ke kiai kampung. Minta doa agar diberikan keberkahan hidup, anaknya supaya salih, perdagangan agar laris sampai yang tersangkut persoalan utang agar bisa selesai, semuanya datang ke kiai kampung. Kehadirannya di tengah-tengah masyarakat tanpa ada prosedur yang ketat semacam protokoler.
Ketiga, kiai kampung tidak mengikuti arena permainan politik praktis, baik politik partai atau politik tingkat desa dalam kontestasi pemilihan kepala desa (Pilkades). Murni semua hidupnya adalah pengabdian untuk masyarakat dan umat, tidak untuk kepentingan politik. Kalaupun ada yang didekati oleh calon legislatif atau calon kepala desa, semuanya diterima dengan baik, tanpa membedakan (netral).
Keempat, dalam hal praktek keagamaan, kiai kampung selalu istiqamah ibadah dan berpegang teguh kepada fatwa gurunya, terutama pengasuh pesantren ketika masih mondok dulu. Perilaku kesehariannya merupakan cerminan dari kitab tasawuf, mulai Bidayatul Hidayah sampai dengan Ihya Ulumuddin. Namun tidak jarang kiai kampung yang menyembunyikan kitab-kitabnya. Baru ketahuan memiliki koleksi kitab banyak setelah wafat.
Kelima, kiai kampung selalu bergerak teguh pada prinsipnya yang kuat. Dalam hal tauhid, misalnya, sangat hati-hati dalam memberikan pengajian yang bertema tauhid. Begitu juga ketika memberikan fatwa hukum yang bersumber dari kitab fiqih, lebih memilih qaul sesuai kesepakatan para ulama (jumhur ulama’).
Eksistensi pesantren, menurut Ngainun Naim (2026), tidak bisa dilepaskan dari unsur utamanya, yaitu kiai. Peran kiai tidak hanya berkaitan dengan pesantren yang dipimpinnya. Namun juga berkaitan dengan kehidupan masyarakat secara luas. Karena itu, sebutan kiai tidak hanya melekat pada pemilik pesantren saja, tetapi juga pada sosok-sosok yang berjasa besar bagi masyarakat.
Artikel Terkait
Tegas, Kiai di Jombang Ini Katakan lndonesia Tidak Merdeka Jika Tak Ada Resolusi Jihad
Siapa Gus Izza Sadewa? Ini Profil Putra Pengasuh Ponpes Kiai Mojo Jombang yang Mendadak Viral Kaitkan Makna Tauhid dengan Merek Rokok